Friday, January 23, 2015

Sejarah Binus: dari Kyai Tapa ke Syahdan

 
01 Mar 2008 26 Comments
by tridjoko in Uncategorized
 
Sungguh cerita yang agak aneh. Saya mulai mengajar di Akademi Tehnik Komputer (ATK) di awal September 1982. Seperti cerita sebelumnya, saya mengajar mata kuliah Statistika. Jumlah mahasiswa di kelas ini 120 orang dengan perbandingan laki-perempuan kira-kira 60-40 persen. Dari cara berpakaian mereka, kelihatannya mereka berasal dari well-to-do family, alias dari kelas menengah-atas. Ruang kelas yang saya tempati berukuran 10×12 meter persegi, sebuah ruang kelas ideal yang nantinya “ditiru” saat Binus membangun kampus Syahdan yang rancangannya dibuat oleh firma arsitek “Atelier 6″..
Namun dua minggu mengajar Statistika, saya sudah harus ambil cuti selama 2 minggu karena menikah dengan orang yang sudah saya pacari selama 1,5 tahun terakhir, yaitu Sertu Susi. Saya ingat buku teks yang digunakan mengajar Statistika adalah Steel & Torrie yang juga merupakan buku teks IPB. Namun kelihatannya buku itu terlalu sulit bagi saya dan bagi mahasiswa saya. Akhirnya saya beli buku “Statistika” karangan Basu Swastha, dosen Fakultas Ekonomi UGM. Saya mengajar dengan terbata-bata karena sebelumnya memang belum pernah mengajar, apalagi mengajar Statistik !
Saya menikah di Madiun tanggal 2 Oktober 1982, sebuah pernikahan yang sederhana mengingat orangtua saya tinggal Ibu saja sedangkan orangtua isteri tinggal Bapak saja. Yang saya masih ingat, waktu itu acara Hari Ulang Tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1982 dilaksanakan di Lapangan Udara Utama Iswahyudi, Madiun karena tuan rumahnya adalah TNI-AU. Inspektur Upacaranya adalah alm. Jenderal M. Yusuf, Menhan/Pangab pada masa itu.
Akibatnya, satu kompi kolone senapan KOWAD yang ikut memeriahkan HUT ABRI itu ikut datang di pernikahan kami di Madiun, tepatnya sore hari setelah pernikahan kami selesai. Akhirnya, satu kompi KOWAD itu saya carterkan 10 becak dan ramai-ramai menuju ke Alun-alun Madiun untuk saya traktir Bakso Simo ! Kelihatannya semuanya senang, saya dan isteri sayapun pulang naik becak, dan teman-temannya KOWAD itupun dijemput truk Kreo untuk diantarkan ke penginapan mereka di Lanud Iswahyudi..
Dua minggu cuti ngajar ternyata membawa otak ini mengkerut. Waktu mengajar Statistika setelah honeymoon di hutan jati Watujago, sayapun lupa menuliskan beberapa rumus statistik dan mahasiswa mulai ribut, “Nah lho..bapak bingung, nah lho..bapak bingung !”..
Shoot !! Sayapun benar-benar bingung. Dengkul ini rasanya lemas sekali seolah mau copot, dan kalau bisa saya pengin tertelan perut bumi..menghilang dari depan kelas ! Tapi saya tidak bisa..
Alhamdulillah, setelah saya nglirik lagi buku Statistika karangan dosen FE UGM itu, rumusnya ketemu lagi…
Di tahun 1982-1984 itu yang mengajar di ATK menurut saya bertambah. Ada ibu Myrna juara judo Trisakti temen sekelas Pak Carmelus di Elektro Trisakti yang bekerja di sebuah perusahaan minyak. Ibu Myrna ini sangat menarik perhatian dari sosoknya yang atletis, wajahnya yang lumayan, dan tentunya kepintarannya. Selain itu ada Pak Tri, lulusan Elektro ITB yang bekerja di Pertamina, yang sering saya nunuti ikut mobil Daihatsu Taft-nya jika transfer dari kuliah di Kyai Tapa menuju kampus baru di Jalan K.H. Syahdan Kemanggisan. Ada lagi Pak Marsudi Wahyu Kisworo alumniElektro ITB yang bekerja di Elnusa, yang sering saya nunuti juga mobil Mitsubishi Gallant-nya. Selain itu masih ada Pak Muchsin alumni AIS (Akademi Ilmu Statistik) yang bekerja di BPS yang sering saya nunuti mobil Mitsubishi Lancer-nya..
Memang di tahun 1984 itu, ATK mulai membangun kampus sendiri di Jalan K.H. Syahdan, Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah. Dari seorang dosen senior yang saya tanya, hal itu dilakukan mengingat gedung lama di Jalan Kyai Tapa menaikkan biaya sewa dan tidak bersedia bekerja sama menjalankan sebuah akademi. Bersamaan dengan pindahnya Akademi Tehnik Komputer ke Jalan K.H. Syahdan, namanyapun berubah menuruti anjuran pemerintah yaitu Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) “Bina Nusantara”. Nama “Bina Nusantara” dituliskan karena yang empunya AMIK adalah Yayasan Bina Nusantara.
Sedangkan Yayasan Bina Nusantara dimiliki 100% oleh keluarja Bapak Joseph Wibowo (almarhum, nama beliau diabadikan sebagai nama kampus JWC – The Joseph Wibowo Center for Advance Learning – di Jalan Hang Lekir). Namun Ketua Yayasan Bina Nusantara di tahun 1984itu adalah Laksamana Muda (Purn) Rudy Purwana, seorang purnawirawan jenderal bintang 2 dari Angkatan Laut. Konon Pak Rudy Purwana ini adalah sahabat karib Bapak Joseph Wibowo ketika bergerilya melawan tentara Belanda di Malang dan sekitarnya pada tahun 1945-1949 yang lalu. Pak Rudy Purwana sebagai anggota tentara gerilya Republik Indonesia, sedangkan Pak Joseph Wibowo adalah pemasok perbekalan bagi tentara gerilya. Untuk itu Pak Joseph Wibowo juga menyandang “Bintang Gerilya“, sebuah tiket untuk dapat dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata sebenarnya, tapi beliau tidak mau..
Kampus Syahdan di tahun 1984 itu masih sangat-sangat kecil, yaitu hanya terdiri dari Gedung L saja dan terdiri dari 4 lantai. Lantai paling atas adalah untuk ruang Direktur ATK yang dijabat oleh Ibu Ir. Th.Widia Suryaningsih, Puket I Bapak Ir. Carmelus Susilo, Puket II Bapak drg. Bernard Gunawan, dan Puket III Bapak Winokan (kemudian digantikan oleh yang lainnya). Tangga di Gedung L baru ada yang di sebelah timur, yang di sebelah barat belum dibangun. Di belakang gedung L, ada sekitar 4-5 meter tempat parkir berbatasan dengan kampung. Di sebelah kiri dan kanan gedung L juga hanya ada space 4-5 meter untuk parkir mobil…
Seperti diketahui, di tahun 1984 belum ada AC di kampus Syahdan (AC baru dipasang sekitar tahun 2000). Kuliahpun menggunakan mikrofon yang sangat keras, barangkali terlalu keras sehingga mengganggu para tetangga di belakang kampus yang belum terbiasa. Akibatnya, kadang-kadang kampus dilempari dengan batu, walaupun sebagai dosen saya hanya mendengar masalah itu tapi belum pernah melihatnya sendiri. Yang saya lihat, hampir di setiap kelas ada seorang anggota Marinir yang belajar layaknya seorang mahasiswa. Tapi beberapa Marinir lainnya berfungsi sebagai asisten dosen, yang ikut menjaga ujian. Pokoknya banyak anggota Marinir yang berpakaian preman pada waktu itu terlibat dalam kegiatan kampus sehari-hari..
Pada tahun 1984 itu, jalan tol Tomang-Tangerang belum dibangun tapi sudah disiapkan tanahnya. Mal Taman Anggrek belum ada, yang ada adalah Taman Anggrek yang konon milik Bung Karno karena di sebelahnya ada rumah salah satu isteri Bung Karno yaitu Ibu Hartati. Jalan tol dalam kota Cawang-Grogol baru sampai Pancoran yang masih berbentuk bunderan Pancoran. Begitu juga Slipi masih berupa Bunderan Slipi. Dari Jalan Kyai Tapa Grogol kalau mau ke Kampus Syahdan adalah belok di Apotik Prima, tepat di sebelah Slipi Jaya Plaza sekarang yang waktu itu belum ada. Pokoknya, masih jadul banget dan masih sepi banget dan ndeso banget deh Jakarta waktu itu..
Ada kejadian menarik di Kampus Syahdan waktu itu. Waktu saya selepas ngajar mau pulang membawa ransel, seorang mahasiswi dengan sok tahu menyapa, “Oh kamu yang ngambil Akuntansi I itu ya ?”. Dengan terbata-bata saya jawab, “Iya..iya..iya..”. Terus si mahasiswinya bingungsendiri dan akhirnya dia bilang, “Oh bukan ding, Akuntansi II ya kan?”. Sayapun mengangguk mengiyakan lalu tersenyum. Memang umur saya di tahun 1984 masih 27 tahun, dengan baby look yang saya punyai pasti banyak orang menyangka saya masih mahasiswa..
Kampus Syahdan di tahun 1984 waktu itu oleh para tukang ojek di bunderan Slipi disebut “Lapangan Cina“, entah kenapa disebut demikian padahal pemilik tanah adalah seorang haji yang tinggal di Jalan Daan Mogot. Yang bertugas mencari tanah di Syahdan ini adalah Pak Rufinus Lahur, dan tentunya Pak Joseph Wibowo sendiri. Pak Haji yang punya tanah waktu itu berpesan, “Baiklah tanah ini saya jual untuk dibikin sekolahan (kampus), tapi dengan syarat sekolahan itu harus merupakan sekolah nasional yang murid-muridnya berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan tidak boleh menggunakan dialek ataupun bahasa daerah sehari-hari ” (sumber : Buku Ulang Tahun ke-65 Pak Joseph Wibowo pada tahun 1995).
Saya memang sering naik ojek dari Slipi jika sudah ketinggalan waktu ngajar dan pengin cepat sampai kampus Syahdan. Kalau tidak salah ongkos ojek waktu itu masih Rp 500 !
AMIK Bina Nusantara di tahun 1984 itu mulai dibanjiri oleh lulusan Statistika IPB sebagai dosen yang mengajar Statistika, Matematika, dan Computer Programming (FORTRAN dan COBOL). Saya catat tidak kurang dari 15 orang lulusan Statistika IPB yang mengajar di AMIK Binus pada tahun 1984 waktu itu, antara lain Pak Bunawan Sunarlim (Dosen Statistika IPB), Kang Ayi Hamim Wigena (Dosen Statistika IPB), saya sendiri, Pak Sablin Yusuf (S1 Kehutanan, tapi S2 Statistika IPB), alm. Pak Abdul Hamang (S2 Statistika IPB), Pak Richard Lungan (S2 Statistika IPB), Haryono, Tassim Billah, Waluyo Achmadi, Jajang Hasyim, dan Simon Tandibua.
(Gedung M baru dibangun ketika saya masih di Amerika untuk sekolah lagi mengambil Master’s. Ketika saya pulang dari Amerika Januari 1990 Gedung J belum ada, apalagi Gedung K dan Gedung H..)
Di kurun waktu 1982-1984pun banyak yang sudah terjadi di BPPT.
Sebenarnya di tahun 1981-1982 oleh Direktur Analisa Sistem BPPT waktu itu yaitu Dr. Satrio Budiharjo Joedono (Pak Billy), telah diprogram bahwa beberapa orang akan belajar di Jerman, beberapa orang ke Perancis, dan beberapa orang ke Amerika. Suksmadi Sudiro yang lulusan Teknik Penyehatan ITB, Puguh Suharso yang lulusan Matematika ITS, dan Ibrahim Hubeis yang lulusan Sospol UI dikirim untuk belajar ke Jerman berangkat tahun 1981. Indrajati yang lulusan Elektro ITS dikirim untuk mengambil Doktor di Perancis di tahun 1981. Sedangkan saya sendiri yang lulusan Statistika IPB dan alm. Pak Himatjandra yang lulusan Elektro UI akan dikirim ke Amerika Serikat di bulan September 1981 itu..
Sayapun bingung alang kepalang, kalau jadi dikirim sekolah ke Amerika, apakah saya harus menikah dulu baru berangkat sekolah, atau sekolah dulu baru nanti pulangnya menikah ?
Pada suatu hari, saya dipanggil Pak Billy di kamarnya. Tidak semua orang bisa membuat Pak Billy happy. Seingat saya hanya saya, Sudjud Suratri, dan Bu Indrajati yang bisa membuat Pak Billy tertawa lepas. Siang itu Pak Billy mengenakan setelan baju kegemaran beliau, yaitu hem combed-cotton warna biru muda, celana katun warna kaki, dasi merah, dan kacamata minus yang agak tebal. Yang tidak ketinggalan adalah sebatang rokok Ji Sam Soe yang diisap di ujung pipa…
“Jadi Pak Tri Djoko mau sekolah mengambil apa ?”,tanya Pak Billy..
“Anu pak, mungkin saya akan mengambil Operations Research, Industrial Engineering, Systems Engineering, atau Computer Science pak”,jawab saya kalem..
“Tapi kan Pak Tri Djoko sudah bekerja sama dengan baik dengan Bob Hoppin orang SRI (Stanford Research Institute), dan kata dia Pak Tri Djoko berbakat di Computer Science”, terang Pak Billy..
Sayapun dalam hati mengiyakan, apalagi saya sudah ngajar di AMIK yang warna akademinya adalah Computer..
“Pak Tri Djoko mau sekolah di negara mana dan universitas mana ?”, tanya Pak Billy menyelidik.
Beberapa hari yang lalu saya sudah menerima brosur AIT Bangkok, dan kelihatannya saya tertarik.
“AIT (Asian Institute of Technology) Bangkok saja pak”, kata saya polos..
Lho, apa Pak Tri Djoko mau ?”, tanya beliau menyelidik
Rupanya Pak Billy yang mendapat Master’s di bidang Economics dari State University of New York (SUNY)-Albany dan Ph.D di bidang Public Administration dari University of Pittsburg ini membandingkan “enaknya” sekolah di kampus-kampus Amerika yang luas dibandingkan dengan AIT yang kecil (Pak Billy mungkin juga pernah berkunjung ke kampus AIT).
Beberapa tahun kemudian, yaitu 10 tahun kemudian di tahun 1992 ketika saya mendapat kesempatan mengunjungi AIT Bangkok karena dikirim oleh Binus, saya baru ngeh dengan apa yang dikatakan oleh Pak Billy..
“Ya kalau gitu ke Amerika Serikat saja pak”, kata saya..
“Ya deh nanti saya carikan beasiswa, siapa tahu bisa dari Ford Foundation. Yang jelas mulai sekarang siapkan nilai TOEFL dan GRE (Graduate Record Examination). Ya siapa tahu kalau nilai TOEFL dan GRE -nya tinggi bisa diterima di UCLA (University of California at Los Angeles) seperti Dr. Hendro Suwandi yang sekarang memimpin Pusat Komputer UI”, kata Pak Billy..
“Siap pak”, kata saya sambil mengundurkan diri dari ruang Pak Billy..
Sayapun menarik nafas dalam-dalam, masih sangat bingung menentukan apakah sekolah dulu atau menikah dulu…
Akhirnya sejarahpun tertulis. Di akhir tahun 1981 yang seharusnya saya “siap kirim” belajar ke Amerika, tiba-tiba ada kabar baru mengenai Pak Billy. Tiba-tiba Pak Billy diminta menjadi Pembantu Rektor II UI yang ditugasi membangun kampus UI Depok. Kabarnya, awalnya Pak Billy sangat bingung menentukan pilihan apakah tetap di lingkungan Kementerian Ristek/BPPT atau kembali ke UI. Beliau saking bingungnya akhirnya melarikan diri rileks sejenak ke Ambon..(selanjutnya Pak Billy ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan di tahun 1993, dan Ketua BPK – Badan Pemeriksa Keuangan – beberapa tahun kemudian)..
Awal tahun 1982 Pak Wardiman Djojonegoro menggantikan Pak Billy Joedono sebagai Direktur Analisa Sistem BPPT.
“Pak Wardiman itu orangnya pekerja keras, mengingat beliau pernah di bawah Pak Ali Sadikin di Pemda DKI, teman sekamar Pak Habibie waktu sekolah di Aachen, Jerman, dan saat ini sedang mengambil program Doktor di Delft”,jelas Pak Billy waktu memperkenalkan Pak Wardiman..(Tahun 1993 Pak Wardiman menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)..
Dengan datangnya Pak Wardiman dan perginya Pak Billy, pilihan saya sudah jelas, yaitu saya akan menikah dulu baru nanti memikirkan sekolah.
Pernikahan saya di bulan Oktober 1983 bersamaan dengan pernikahan mbak Sri Mulati, mbak Hindun Purwati, Susi, Diah dan Hilda Fidiana – kelimanya ex sekretaris Pak Billy. Rupanya kepergian Pak Billy menginspirasikan para sekretarisnya untuk menikah !
“Keresahan” menjadi PNS dan lepas dari Pertamina mulai menimpa saya dan teman-teman Direktorat Analisa Sistem BPPT. Apalagi job flow di BPPT yang tidak terlalu bagus. Banyak staf BPPT yang hanya duduk-duduk, membaca koran, dan di siang hari hanya memandangi lalu-lalangnya mobil-mobil di jalan Thamrin. Saya mulai tidak kerasan di awal tahun 1983 dengan alasan saya tidak jadi meneruskan sekolah Master’s di Amerika..
“Daripada tetap di BPPT, lebih baik saya mencari pekerjaan yang lebih jelas”, kata saya dalam hati. Sayapun mulai menulis surat lamaran lagi antara lain ke IBM dan ke sebuah perusahaan minyak. Di IBM saya hampir diterima, tapi HRD Division Head-nya minta maaf, “Maaf Pak Tri Djoko, policy kami karena bapak bekerja di BPPT dan karena IBM mensupply komputer untuk Nurtanio, maka bapak tidak bisa kami terima karena BPPT itu sister companynya Nurtanio”, kata bapak itu. Memang sudah 2 kali saya lolos test IBM mungkin karena nilai DPAT (Data Processing AptitudeTest) saya yang sangat tinggi, pernah nomor 2 tertinggi padahal dengan 60 orang saingan saya banyak alumni ITB, UI dan Trisakti ! Perusahaan minyak yang saya lamari hanya menjawab melalui surat standar yang berbunyi “We regret to inform you that…..bla..bla..bla…”..
Pertengahan tahun 1983 anak perempuan saya yang pertama lahir, saya beri nama Dessa Ayu Mahardhini. Nama “Dessa” diambil dari nama tokoh di film “Sang Gadis” yang dibintangi oleh Iis Sugianto yang sangat menyentuh hati saya, ketika isteri saya yang sedang hamil besar sedang tertidur di sebelah saya. Nama “Mahardhini” adalah nama siswi yang populer di tanah Jawa sana, dan nama “Ayu” adalah untuk menggenapi namanya menjadi 15 digit ! Menurut kamus “Dessa” artinya adalah “the wanderer” alias anak yang suka perjalanan !
Rupanya Pak Wardiman ini koneksinya dengan orang-orang Jerman sangat kuat. Di akhir tahun 1983 ditandatangani MoU antara Indonesia yang diwakili Pak Habibie selaku Ka.BPPT/Dir. Nurtanio dengan pihak Jerman yang diwakili oleh Dr. Dietrich Fischer selalu salah satu pembesar IABG (Industrieanlagen Betriebsgessellschaft mbH). IABG saya nilai adalah “model ideal” Direktorat Analisa Sistem BPPT, karena di IABG juga ada studi tentang Sistem Transportasi, Sistem Perkotaan, dan Sistem Pertahanan. Ruang lingkup MoU adalah Studi mengenai Air & Sea Transportation yang pada umumnya dibagi 2 yaitu Transportation Cost Model (Transcom) dan Simulation & Modeling.. Dalam MoU itu para expert Jerman akan tinggal di Indonesia dan biayanya akan ditanggung oleh pihak Indonesia, sedangkan expert Indonesia yang akan tinggal di Jerman juga akan ditanggung biayanya sebesar DM 125 per hari.
Akhirnya di bulan Juni-Juli 1984 sayapun mengunjungi Ottobrunn, sebuah kota suburb dari kota budaya Bavaria Munchen. Pengalaman pertama kali ke luar negeri sungguh sangat menyenangkan…
Kesedihan dan kebimbangan saya karena “kurangnya pekerjaan” di BPPT untuk sementara ini terhapuskan dengan perginya saya “naik haji” ke Jerman (mengingat kebanyakan orang BPPT dan Nurtanio, cepat atau lambat pasti mendapat kesempatan berkunjung ke Jerman, negara dimana Pak Habibie sekolah dan bekerja dulu, maka bepergian ke Jerman sudah seolah seperti pergi naik haji)…
Banyak ilmu yang saya dapatkan dengan berkunjung “naik haji” ke Jerman, seperti ilmu transportasi massal dan skenario penerbangan menghadapi illegal fishing, smuggling dan forest fire. Yang paling jelas, berkunjung Jerman tetap menghidupkan semangat saya bekerja di BPPT dan menebalkan tekad saya bahwa pada suatu hari nanti saya akan belajar ke luar negeri, eventually
[ Bersambung ]
Quiz : Gedung mana di Kampus Syahdan yang belum pernah dijadikan kantor oleh mantan Rektor Binus alm. Ibu Th. Widia ?  (a. Gedung L   b. Gedung M   c. Gedung J   d. Gedung K   e. Gedung H)

 Reblog dari :

https://triwahjono.wordpress.com/2008/03/01/sejarah-binus-dari-kyai-tapa-ke-syahdan/























































No comments:

Post a Comment