Saturday, January 24, 2015

Wahyu Saidi, Sang “Doktor” Bakmi

 

Published by asepchenko ID at May 19, 2013

WAHYU_SAIDI

- See more at: http://sekolahumarusman.com/wahyu-saidi-sang-doktor-bakmi/#sthash.gYM0XBTT.dpuf

 

Kartu nama itu unik, sekaligus lucu. Coba baca: Dr. Ir. H. Wahyu Saidi, MSc. Tapi jangan terkecoh, menyangka pemiliknya dosen atau peneliti di sebuah perguruan tinggi. Sebab, di bagian bawah tercantum, dengan huruf lebih kecil, nah: “Alumni ITB, Tukang Bakmi”. Sungguh!

WAHYU_SAIDI Insinyur Teknik Sipil ini lulusan Institut Teknologi Bandung, tempat ia juga menyabet S-2 Teknik Industri. Wahyu lalu bekerja di sebuah perusahaan pembangun jalan layang seraya menyelesaikan program doktor bidang manajemen pendidikan di Universitas Negeri Jakarta.

Apa lacur, Wahyu akhirnya menjadi saudagar bakmi. Tapi bukan sembarang tukang bakmi. Dialah orang di balik gerai waralaba “Bakmi Langgara” dan “Bakmi Tebet”, yang kini menjamur di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Hingga kini cabang Bakmi Tebet sudah 47, dan beberapa waktu lalu ia meresmikan cabang ke-36 Bakmi Langgara di Jalan Sawojajar, Bogor. Semua itu terjadi hanya dalam empat tahun.

Kisah sukses pria 42 tahun ini bermula ketika krisis ekonomi melanda tanah Air. Perusahaan jalan layang tempatnya bekerja gulung tikar. Wahyu lalu putar otak. Mula-mula ia mencoba usaha agribisnis, menanam cabe dan buncis. Bangkrut, antara lain karena salah menggunakan pupuk. “Pupuk buncis itu ternyata buat daun, bukan untuk buah,” kata Wahyu, tertawa mengenang pengalamannya.

Tak putus asa, Wahyu mencoba peruntungan di bisnis makanan. Mula-mula ia membuka lepau ikan patin, masakan khas Palembang, ranah kelahirannya. Tapi perkembangan kedainya, yang terletak di Jalan Pemuda, Jakarta Timur, datar-datar saja. Dalam sehari ia hanya memperoleh pemasukan Rp 100-150 ribu.

Kendati pendapatan minim, ada pelajaran yang dipetik Wahyu dari bisnis makanan. “Untung berjualan makanan itu bisa 100 persen dari modal yang kita keluarkan,” ujarnya. Memadukan pengalaman praktis di lapangan dan ilmu manajemen yang dipelajari di kampus, Wahyu mencari jenis makanan yang punya prospek bagus. “Jangan seperti ikan patin, yang cuma bisa dimakan orang dewasa dan waktu makannya kebanyakan siang hari,” katanya.

Ia lalu menetapkan kriteria: makanan yang disukai semua orang dan bisa dimakan pagi, siang, maupun malam. Mulailah ia menganalisis berbagai menu, mulai dari soto kudus, soto madura, siomay, ayam bakar, sampai roti bakar. Pilihan akhirnya jatuh pada bakmi.

Wahyu mulai belajar membuat bakmi yang lezat. Patokannya adalah Bakmi Gajah Mada. Wahyu menyatakan kekagumannya pada restoran yang sangat terkenal dan banyak penggemarnya itu. Sayangnya, Bakmi GM tak membuat waralaba.

Tapi Wahyu tak hilang akal. Ia mengundang para pakar kuliner, analis rasa, juga pensiunan koki Bakmi GM. Kerja keras itu tak sia-sia. Wahyu berhasil memperoleh bumbu penyedap bakmi dan 33 jenis hidangan lain, kendati cita rasanya, tentu, tak seratus persen menyamai Bakmi GM.

Pada 2000, ia mulai membuka gerai bakmi di Menara Kadin. Lokasi itu ia peroleh berkat pertemanannya dengan seorang pengusaha. Gerai pertama itu diberi nama “Bakmi Langgara”. Kemudian menyusul gerai di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, lalu di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan. Tapi gerai baru ini menggunakan nama “Bakmi Tebet” Nama yang bernuansa Jakarta.

Wahyu menggunakan teori pemasaran untuk memecah pasar. Jika Bakmi Langgara diposisikan untuk konsumen kelas menengah-atas, Bakmi Tebet buat khalayak menengah-bawah. Di masa-masa awal, Wahyu mengaku sering terbentur masalah dana untuk mengembangkan usaha.

Beruntung ia berjumpa Hermanu, seorang pensiunan Bank Indonesia yang bersedia membantu pembiayaan. Sampai kini Hermanu tetap menjadi kongsi Wahyu yang setia. Sayang, upaya membidik dua segmen pasar berakhir kandas. Posisi pasar Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet lambat-laun berbaur.

Wahyu akhirnya menetapkan keduanya sama-sama menembak target pasar menengah. Agar usahanya cepat berkembang, Wahyu membuat sistem waralaba. Ia menjamin biaya waralabanya murah. “Dengan Rp 100 juta sudah cukup untuk membuka cabang Bakmi Langgara atau Bakmi Tebet,” katanya.

Bakminya terbukti disukai konsumen. Irwan Kelana, salah satu pembeli waralaba Bakmi Langgara di kawasan Parung, Bogor, mengaku dalam sehari bisa memperoleh Rp 2 juta. “Kalau Sabtu dan Ahad malah bisa Rp 3 juta,” katanya.

Dengan pendapatan sebesar itu, dalam satu atau satu setengah tahun, kata Wahyu, modal biasanya kembali. Kendati usahanya berbiak cepat, Wahyu tak mengorbankan mutu. Ia rutin menggelar pelatihan buat para koki. “Agar standar rasa masakan tetap terjaga,” ujar pelahap buku-buku pemasaran itu. (*/Tempo.co)

- See more at: http://sekolahumarusman.com/wahyu-saidi-sang-doktor-bakmi/#sthash.gYM0XBTT.dpuf

 

http://sekolahumarusman.com/wahyu-saidi-sang-doktor-bakmi/

 

Dibalik Sukses Bakmi GM

Kamis, 21 Februari 2013

 

Bakmi Gajah Mada awalnya hanyalah warung bakmi di pinggir jalan. Kini menjadi salah satu restoran favorit di Jakarta. Kiatnya?

Suasana ramai menjelang makan siang menjadi pemandangan yang biasa terlihat di gerai Bakmi Gajah Mada Jl. Sunda, Jakarta Pusat. Pada pukul 12.00-13.00 pengunjung — sebagian besar karyawan yang berkantor di kawasan Segi Tiga Emas — rela antre untuk menikmati makan siang di restoran itu. Di samping itu, ada juga mahasiswa/i dan juga ibu rumah tangga, yang usai berbelanja di pusat perbelanjaan Sarinah.

Bila Tjhai Sioe Tjhung masih hidup, mungkin ia merasa bangga melihat usaha yang dirintisnya kini menjadi besar dan lebih modern dibanding dengan apa yang dilakukannya 41 tahun lalu, ketika memulai usahanya di Jalan Gajah Mada 77, Jakarta Barat. Bagi Tjhai, menjadi pedagang bakmi adalah tuntutan sebagai kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga dan membesarkan kesebelas anaknya. “Saya masih ingat kalau uang belanja keperluan rumah tangga diambilkan dari hasil penjualan bakmi,” kenang Jenny Mokhtar, Direktur PT Griya Miesejati.

Saat itu, ruangan yang digunakan tidak besar, hanya muat untuk empat meja dan paling banyak menampung 15-20 orang. Dapur pun di depan dan masih menggunakan kompor minyak. Setiap hari buka 2-3 jam menjelang makan siang, dan menjelang sore sudah habis. Menu yang ada saat itu hanya bakmi ayam, bakso dan pangsit. “Per harinya paling-paling hanya mampu menjual 100 porsi,” tutur Jenny.

Namun, siapa sangka usaha yang dirintis Tjhai dan istrinya, Loei Kwai Fong, itu akan menjadi makanan favorit di Jakarta? Bungsu dari 11 bersaudara ini pun tidak menduga, bisnis yang dirintis orang tuanya kian hari makin diminati masyarakat. Dengan 7 gerai — semuanya di Jakarta — setiap hari lebih dari 3 ribu orang berkunjung ke Bakmi GM. “Kami masih biasa-biasa saja, belum besar,” ujar Jenny merendah.

Nama Bakmi GM mulai dikenal pada 1962. Dari hari ke hari, jumlah pengunjung terus bertambah. Maka, kata Jenny, ayahnya pun menambah meja makan, dari empat menjadi 10 meja. “Saat ramai umumnya ketika makan siang. Dan menjelang sore, sudah pasti kehabisan,” ujar Ferdy Pattiasina, Presdir PT Griya Mitrarasa –pengelola Bakmi GM Sarinah. Ferdy merupakan satu-satunya eksekutif yang berasal dari luar (keluarga).

Enam tahun kemudian (1968), ketika ada pelebaran Jalan Gajah Mada, rumah-rumah di kasawan itu harus dimundurkan sekitar 10 meter. Karena ada pembongkaran jalan dan mobil pun susah lewat, akhirnya Bakmi GM sempat tutup sekitar setahun, dan kemudian pindah di Jalan Kejayaan, Jak-Bar. Setelah pelebaran jalan selesai pada akhir 1969, Bakmi GM kembali ke tempatnya semula. Banyak perubahan yang terjadi, misalnya ruangnya lebih besar dengan kapasitas 30 meja dan juga ber-AC.

Dari situlah terasa ada pengembangan, meskipun tidak terkonsep. Pada 1971, karena pelanggannya banyak dari wilayah Jakarta Selatan, banyak yang meminta agar Bakmi GM membuka gerai di kawasan itu. Untuk memenuhi keinginan itu, manajemen Griya Miesejati membuka gerai di Melawai. Awalnya, berlokasi di dalam pasar, tetapi kemudian pindah ke Jalan Melawai No.3.

Menurut Jenny, saat itu permintaan di Melawai tidak seramai seperti di Jalan Gajah Mada. “Saya anggap hal itu wajar, karena manajemen tidak melakukan promosi. Ini hanya untuk memenuhi permintaan konsumen,” tutur alumni Hospitality Industry Algorquen Ottawa, Kanada. Karena tahun pertama masih sepi, ada inisiatif dari manajemen untuk menambah menu. Memasuki tahun kedua, restoran tersebut menyediakan bakmi goreng, nasi goreng dan bakmi ayam cah jamur. Dengan jenis makanan beragam, ternyata mampu menyedot pengunjung lebih banyak. Padahal, “Ketika itu kami hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut,” tambah Jenny.

Sementara itu, jumlah pengunjung Bakmi GM Jalan Gajah Mada 77 terus membanjir dan tak tertampung lagi. Soalnya, resto ini semakin populer. Maka, diputuskan pindah ke Jalan Gajah Mada 92, yang dapat menampung 62 meja. Menunya pun mulai ditambah, selain mi ayam, ada juga bakmi goreng dan nasi goreng. Ternyata rasa bakmi goreng dan nasi gorengnya pun sesuai dengan selera konsumen, sehingga kedua jenis makanan itu juga diminati.

Karena inovasi dan kreativitas dalam menyediakan menu makanan, jumlah pengunjung pun terus bertambah. Saat itu, rata-rata pengunjung Bakmi GM di Jalan Gajah Mada mencapai 500 orang/hari. Sementara di Melawai, yang semula 200 orang, dari hari ke hari keadaannya terus membaik.

Kesuksesan di dua gerai itu mendorong manajemen Bakmi GM berekspansi. Pada 1986 didirikanlah gerai ketiga, berlokasi di gedung bioskop 21 di Jalan M.H. Thamrin (sekarang Gedung BII). “Kebetulan saat itu Pak Dwi (Sudwikatmono, pemilik jaringan bioskop 21 — Red.) menawari kami membuka restoran di gedung tersebut,” tutur Jenny. Ia berani membuka gerai di tempat itu karena lokasinya bagus, meskipun biaya sewanya cukup tinggi. Kemudian, melalui PT Griya multirasa, pada 1989 dibuka gerai Bakmi GM keempat di di Mal Pondok Indah.

Gerai di Jalan Thamrin memang hanya berumur 6 tahun. Namun, itu bukan karena sepi pengunjung, melainkan karena gedung bioskop dibongkar dan dijadikan gedung perkantoran. Untuk melayani pelanggan yang biasa berkunjung ke sana, Bakmi GM memindahkan gerainya ke Jalan Sunda dengan kapasitas 85-90 meja. Gerai ini dikelola Griya Mitrarasa dan didirikan dengan modal setor Rp 200 juta. Pemegang sahamnya, selain Ferdy, juga Lie Kay Hoat, Peily Dian Lie, Wahyu Suryadi, Kristin Nina Sastra dan Rachman Sastra.

Tahun 1990-an Bakmi GM terhitung agresif menambah gerai. Melalui PT Graha Makmurindo Bogatama, membuka gerai di Mangga Dua (1992). Modal yang disetor Rp 60 juta dan dimiliki Lie Tjik An, Lie Fiona Limurti, Lie Kok Khian dan Lie Soei Khoen. Lantas pada 1996 Griya Miesejati menambah gerai lagi di Kelapa Gading. Sementara itu, pada 1997 melalui PT Griya Murnirasa membangun gerai di Mal Puri Indah. Sehingga, Bakmi GM pun siap melayani pelanggannya melalui 7 gerainya di berbagai penjuru Jakarta.

Menurut Jenny, ekspansi itu bukan karena Bakmi GM berambisi, tetapi karena permintaan konsumen dan pengelola mal. Soalnya, gerai Bakmi GM diharapkan dapat menarik pengunjung ke mal tersebut. Dan secara kebetulan mal itu ada di Jak-Sel, sesuai dengan rencana pengembangan Bakmi GM. “Kami hanya ingin mendekatkan diri dengan konsumen,” tuturnya.

Adakah kompetitor yang patut diperhitungkan? Menurut Jenny, semua resto adalah pesaing. Pasalnya, munculnya banyak resto yang menyajikan berbagai jenis makanan, memberikan banyak pilihan bagi konsumen. Namun, katanya, khusus untuk mi, Bakmi GM agak beda, terutama dalam hal kebersihan, layanan dan kenyamanan.

Dalam kecepatan layanan, Bakmi GM berusaha mempertahankan standar yang ditetapkan. “Meski dalam kondisi ramai, konsumen hanya menunggu 8-15 menit,” tegas Jenny. Ferdy menambahkan, Bakmi GM masih lebih cepat dibanding pemain lainnya dan dapat melayani porsi besar dengan kualitas standar. Namun, itu sebetulnya juga tergantung pada jenis makanan yang dipesan konsumen. Jika mereka menginginkan nasi goreng, bakmi jamur atau cap cay, pesanan bisa lebih lama sampai ke meja mereka. Yang jelas, “Kami tetap konsisten mempertahankan standar kualitas,” tandas Jenny.

Kelebihan Bakmi GM lainnya, kata Ferdy, selalu konsisten terhadap rasa. Meski harus melayani banyak order, bisa mempertahankan standar rasanya. Itu pula yang menyebabkan Hadi Soesastro, Direktur Eksekutif CSIS, jadi salah satu pelanggan loyal sejak 1970. “Sejak masih bujang, saya sudah menjadi pelanggan. Waktu itu harga bakmi Rp 250/porsi,” katanya sambil menyantap nasi goreng plus pangsit goreng. Alasan menjadi pelanggan loyal? “Terus terang Bakmi GM selalu menjaga standar rasa, harga terjangkau dan servisnya pun bagus,” tutur Hadi tanpa bermaksud mempromosikan resto langganannya itu. Dalam hal ini, ia menambahkan, antara gerai yang satu dengan yang lainnya tidak ada perbedaan. Tak hanya bakmi makanan favorit Hadi di Bakmi GM, tapi juga nasi goreng.

A.B Susanto, Mitra Pengelola The Jakarta Consulting Grup, pun memberikan acungan jempol kepada Bakmi GM. Menurutnya, resto itu memiliki dua keunggulan. Pertama, kemauan memberikan pelayanan yang lebih baik dan terus-menerus berusaha meningkatkan kualitas layanan. Itu pula, barangkali, yang membuat Bakmi GM tidak berekspansi hingga ke luar Jakarta. Sebetulnya, tambah pengamat manajemen itu, kalau mau memberbanyak gerai, itu bisa dilakukan. Namun, jika belum yakin bisa memberikan pelayanan yang baik, “Sebaiknya memang tidak terlalu berambisi berekspansi.” Kedua, ditanamkannya semangat usaha sebagai perusahaan world class company, meskipun hanya di Jakarta. Dan prinsip ini sudah ditanamkan pada seluruh level karyawan di perusahaan itu.

Hanya saja, tak semua gerai Bakmi GM berjalan sesuai dengan harapan. Gerai di Mal Puri Indah, misalnya, tahun pertama rugi hampir Rp 100 juta. Namun, pada tahun kedua mencetak untung sekitar Rp 35 juta. “Bagi kami ini tanda-tanda maju,” kata Jenny. Gerai di Mangga Dua pun tergolong lokasi yang salah. Betul, gerai itu sempat menghasilkan untung, tapi tidak seperti yang diharapkan. Berapa sih targetnya? “Kami tidak menargetkan harus mencapai angka tertentu. Yang jelas, dalam waktu tiga tahun harus balik modal,” tandasnya. Kenyataannya, hal itu baru dicapai pada tahun kelima. Celakanga, begitu kembali modal, terjadi krisis ekonomi dan kerusuhan.

Yang membuat rugi, kata Jenny, adalah kerusuhan. Soalnya, orang tidak berani pergi ke mal, yang mengakibatkan pengunjung Mangga Dua sepi. Maka, pada 1998 gerai tersebut rugi. Jumlahnya? Dia enggan menyebut angkanya. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, dilakukannlah beberapa langkah efisiensi. Misalnya, memindahkan sebagian karyawan ke gerai lainnya dan jam tutup lebih awal sehingga menghemat listrik dan gas. “Cara itu ternyata banyak membantu.”

Ke depan, tampaknya Bakmi GM masih akan membatasi ekspansinya. “Dalam benak kami, sampai saat ini belum terpikir melakukan ekspansi. Yang kami pikirkan, bagaimana mempertahankan yang ada dan meningkatkan kemampuan SDM. Terus terang, kami kesulitan dalam SDM,” tutur Jenny. Terlebih, pembukaan gerai baru sekarang juga membutuhkan dana yang tidak kecil. Sebelum krisis, untuk membuat gerai sekelas di Mal Puri Indah diperlukan dana sekitar Rp 700 juta. Saat ini, bisa membengkak hingga Rp 2 miliar karena harga berbagai peralatan untuk mengoperasikan resto naik rata-rata 3 kali lipat. Dan investasi sebesar itu hanya untuk membeli peralatan dan biaya SDM, belum termasuk sewa gedung.

Menurut Jenny, sebetulnya ada pengelola mal lain yang memintanya membuka gerai Bakmi GM, misalnya Plaza Senayan dan Mal Ciputra. Namun, “SDM kami tidak siap,” ungkapnya. Ia meminta diberi waktu setahun agar pembukaan gerai itu bisa dipersiapkan secara matang. Sayangnya, pihak pengelola pusat belanja itu hanya memberi waktu 6 bulan. “Itu sangat sulit bagi kami,” ujarnya. Tentu, peluang itu bisa diisi para pesaingnya. Namun, manajemen Bakmi GM tampaknya lebih memilih tidak menambah gerai secara tergesa-gesa. Sebab, mereka khawatir pengelolaannya berantakan.

Dari 7 gerai yang ada sekarang, ungkap Jenny, 5 di antaranya cukup baik prestasinya. Adapun gerai di Puri Mal dan Mangga Dua belum sesuai harapan. Kontribusi pendapatan masing-masing gerai yang berjalan baik pun tak jauh beda. Soalnya, masing-masing gerai mempunyai karakteritisk sendiri. Gerai di Jalan Sunda misalnya, ciri khasnya: sangat ramai pada saat makan siang. Sementara pengunjung di gerai Mal Pondok Indah lebih merata –tidak terjadi tumpukan pengunjung pada saat-saat tertentu. Namun, yang jelas, tiga gerai (Gajah Mada, Jalan Sunda dan Mal Pondok Indah) bisa memberikan kontribusi 50%-60%.

Sayang, manajemen Bakmi GM tak mau menyebutkan omsetnya. “Itu rahasia. Nanti orang kaget kalau dengar jumlahnya. Yang jelas, cukup lumayan,” Ferdy berkilah. Menurut perhitungan SWA, untuk gerai di Mal Pondok Indah, rata-rata ada seribu pengunjung/hari dan masing-masing membelanjakan Rp 20 ribu. Artinya, omset gerai tersebut mencapai Rp 20 juta/hari atau Rp 600 juta/bulan. Belum lagi pendapatan dari 6 gerai lainnya.

Dalam pengamatan Roy Goni, pemerhati pemasaran, dengan memiliki 7 gerai, Bakmi GM menjadi perusahaan yang sangat profitable. Ekspansi akan berimplikasi terhadap model bisnis yang dianut selama ini. Sebab, manajemen Bakmi GM harus bisa melakukan standardisasi ramuan. “Kekuatan Bakmi GM memang terletak pada ramuan menunya. Ini menjadi kendala dalam berekspansi, dan pertumbuhannya pun terbatas,” katanya. Namun, dengan pertumbuhan (gerai) yang terbatas itu, resto bakmi itu dapat menjaga eksklusivitasnya. Terlebih, semua gerainya berlokasi di Jakarta.

Selama ini Bakmi GM berupaya membuat standardisasi ramuan menu maupun layanan. Sehingga, di gerai manapun, konsumen tetap puas. “Bakmi GM mampu menyajikan servis yang excellent, mampu menjaga konsistensi makanannya,” puji Roy, pelanggan sejak 1980. “Service people-nya pun bagus karena mereka bisa mengatur keluar-masuk tamu lebih cepat,” tambahnya.

Sampai generasi kedua, pengelolaan Bakmi GM masih didominasi keluarga. Anak-anak Tjhai yang terlibat aktif: Yulia Widjaja, Sukendi Widjaja, Peily, Marsudi Singgih, Lie Kay Hoat, Lie Gun Fat dan Jenny. Mereka bahu-membahu mengelola bisnis keluarga itu. Yulia, misalnya, meski sebenarnya lebih berkosentrasi menangani Gerai Melawai, terkadang ikut mengawasi gerai yang lain. Kemudian Peily, selain banyak menangani kantor pusat, iklan dan promosi, juga menangani gerai-gerai. Adapun Marsudi lebih banyak menangani gerai di Jalan Gajah Mada.

Akankah manajemen Bakmi GM diserahkan kepada profesional dari luar keluarga? Menurut Susanto, yang juga konsultan Bakmi GM, ke depan arahnya akan ke sana. “Kalau diserahkan ke profesional, saya yakin larinya akan lebih cepat,” tandasnya. Ia menambahkan, mungkin setelah 2-3 tahun mendatang, manajemen resto ini sudah akan dipegang oleh profesional. Pemilik Bakmi GM perlu melakukan persiapan secara matang, terutama dalam menanamkan budaya kerja yang baik di lingkungan perusahaan.

Jenny menambahkan, sebetulnya pihak keluarga ingin secepatnya mempercayakan pengelolaan Bakmi GM kepada profesional. Apalagi, beberapa orang dari generasi kedua sejak tiga tahun lalu berniat mengundurkan diri. Sementara itu, anggota keluarga generasi ketiga tidak ada yang mau mengelola. Namun, karena merasa SDM-nya belum siap, “Terpaksa kami masih harus mengelola bersama,” jelasnya.

Kini manajemen Bakmi GM sedang melakukan konsolidasi, terutama membenahi SDM. “Kalau SDM-nya sudah kuat, sebagai pemilik kami akan mundur,” tutur Jenny. Untuk itu, manajemen sedang menjaring tenaga-tenaga muda yang akan dilatih menjadi SDM andal, dapat bekerja dalam sistem yang solid sesuai dengan standar manajemen operasional. Ini bukan pekerjaan mudah. Soalnya, jenis makanan yang dijajakan Bakmi GM kini semakin banyak dan kompleks. Lebih dari 30 menu makanan ditawarkan, dengan harga Rp 6.300-16.000. Bakmi, misalnya, ada 14 pilihan. Ada juga makanan favorit lain, seperti nasi goreng, pangsit goreng dan nasi daging sapi cah cabai. Nah, “Kami ingin agar kualitas menu makanan dan layanan tetap terjaga baik, meski manajemen pindah ke tangan profesional. Karena, kepuasan pelanggan menjadi prioritas Bakmi GM,” tegas Jenny.

Sumber : finance.dir.groups.yahoo.com

 

via

http://kisahsukses818.blogspot.ca/2013/02/dibalik-sukses-bakmi-gm.html

 

 

Friday, January 23, 2015

Sejarah Berdirinya BINUS

 

December 24, 2008 at 10:16 am Leave a comment

WIDIA SOERJANINGSIH
SEMUA BERAWAL DARI NOL

Mungkin banyak yang tahu, Universitas Bina Nusantara (UBiNus) adalah
salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta, bahkan di Indonesia.
Universitas pertama yang meraih Sertifikasi ISO-9001 ini memiliki
lebih dari 20 ribu mahasiswa, 700 dosen, tiga kampus yang megah,
meraih penghargaan “The Best Indonesian Net Company” dan belakangan
punya citra sebagai cybercampus. Tapi barangkali sedikit yang tahu
bagaimana seorang Widia Soerjaningsih dan ayahnya (alm) Wibowo,
mengawali dan membangun universitas ini dari sebuah kursus komputer
di teras rumah. UBiNus benar-benar diawali dengan modal ide dan
keberanian belaka. “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan pasti
ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus,”
demikianlah cara Wibowo menempa semangat putrinya.

Tapi, bagaimana bisa sebuah kursus komputer berkembang sedemikian
pesat hingga menjelma menjadi universitas besar? Barangkali salah
satu faktornya adalah karena pada masa 70-an, bidang garap teknologi
komputer masih jarang dilirik dan dikuasai orang. Justru yang
menarik, awalnya lembaga pendidikan ini dibangun dengan prinsip ‘asal
kelasnya penuh’ dan ‘pelanggan puas’. “Prinsipnya begitu mereka mau
mendaftar, saya harus melayani mereka dengan baik. Tidak ada target
apa-apa, yang penting setiap kelas harus penuh,” tutur Widia yang
lahir 19 Oktober 1950 di Malang itu.
Dengan prinsip demikian, diakui Widia, semula UBiNus tumbuhan biasa-
biasa saja. Begitu tujuan-tujuan berhasil didefinisikan, tim yang
dipimpinnya merapatkan barisan dan target-target dikejar, laju
perkembangannya pun makin pesat. Tak kalah penting adalah adanya visi
ke depan yang begitu kuat, profesionalisme dalam mengelola manajemen
perguruan tinggi, serta jiwa entrepreneurship yang diwarisi Widia
dari sang ayah. Maka, tak berlebihan jika di dunia pendidikan tinggi
di Indonesia, rektor UBiNus ini adalah salah satu sosok yang layak
dijadikan teladan.

Widia yang menikah dengan Eko Atmo Budi Santoso ini, berhasil
mengawinkan antara idealisme dunia pendidikan dengan sistem
pengelolaan bisnis profesional. Tak heran jika pada 2002 lalu ia
dinobatkan sebagai The Famous Business Woman dan The Best CEO versi
Majalah SWA dan MarkPlus. Nah, spirit apa yang membawa ibu dari
Stephen (25), Francis (22), dan Patrice (18) ini ke tangga kesuksesan
hingga sekarang? Simak wawancara eksklusif Widia Soerjaningsih dengan
Edy Zaqeus dari InMagz.Com di gedung rektorat UBiNus Jl KH Syahdan 9,
Kemanggisan, Jakarta berikut ini:

Bagaimana sejarah awal berdirinya Universitas BiNus ini?
Saya lulus S-1 bidang elektro, tapi bidang yang paling menarik adalah
komputer. Lalu kerja praktek di IBM tiga bulan, sesudah itu pernah
kerja di Pertamina tahun 1973. Saya kemudian terinpsirasi oleh idenya
Pertamina. Pada waktu saya kerja, plan Pertamina memang untuk membuat
Achademy of Computer Technology. Zamannya Pak Ibnu Sutowo itu tahun
1973. Kita direkrut untuk menyiapkan teaching staff. Karena
pengalaman saya belajar di IBM, saya disuruh mengajar teman-teman
yang dikumpulkan untuk menjadi guru di fakultas teknik. Ngajar segala
macam bersama kawan-kawan dari (Universitas) Trisakti. Sempat setahun
di sana. Pas saya berhenti itu Pertamina mulai agak jatuh. Saya
berhenti dari Pertamina bukan karena itu, tapi karena ditarik
Trisakti kembali. Karena adik harus masuk perguruan tinggi, dari
keluarga ndak ada biaya, jadi saya punya tugas. Saya kerja di
Trisakti, adik masuk. Terus sambil lalu, karena punya pengetahuan
komputer, coba usaha di Trisakti kursus komputer bersama teman-teman.
Adanya di Trisakti, awalnya itu….wah banyak muridnya. Tapi
biasalah, kalau kita masih muda, apalagi seumur membuat usaha
bersama, akhirnya nggak bisa langgeng.

Usia Anda berapa waktu itu?
Ya, di umur-umur S-1 berapa yah…sekitar 24. Kemudian dari situ
sempat kita jalankan satu biro diklat. Dapat muridnya banyak. Dulunya
mahasiswa menganggap komputer susah, kan? Tempatnya di Trisakti waktu
sore, dan memang karena membawa korps pesertanya banyak. Yang
mengamati langkah ini ayah, Pak Wibowo almarhum. Begitu saya selesai
kuliah, dari semua pengalaman tadi, kayaknya ada potensi untuk
dijual… Kebetulan ayah memang orang wirausaha. Sudah, disuruh buka
kursus sendiri. Padahal anak-anak lulusan S-1 mana mau ya disuruh
begitu? Maunya cari kerja ya? Karena berpikir lulus S-1 bisa apa sih?
Padahal kalau kita kerja sama orang, kita masih diajari, kan? Anak-
anak yang baru lulus biasanya pandangannya seperti itu. Saya ya sama
waktu itu. Makanya, disuruh kerja sendiri…”Wah saya harus belajar
pada siapa nih?” Ilmunya mentok, begitu kalau dipikir.

Tapi waktu itu berani juga?
Ya, karena saya termasuk yang nurut. Ya sudahlah, ndak usah kerja
sama orang. Kalau kerja sama orang bisa stug, naiknya pun pelan. Tapi
kalau kerja sendiri, yang pasti kalau mau naik bisa tergantung usaha
kita. Sudah, saya didukung menjalankannya. Akhirnya bagi tugas, saya
bagian akademik, ayah bagian pemasaran dan perizinan. Dan kita
mulainya di muka rumah, di teras. Rumah di Grogol, Jl Makaliwe I
No.10. Yang sampai sekarang akhirnya kita beli sebagai
apa….momentum, biar pun kita belum bangun sampai saat ini. Kita
terima malah rumah itu ndak ada tutup, kecil ruangannya cuma dikasih
bangku-bangku. Paling banyak menampung 15 orang. Strategi pemasaran
kita lakukan door to door, murah meriah ya… ke tetangga-tetangga
banyak mahasiswa, kan? Yang kos itu anak Trisakti, anak Untar.
Kebetulan memang di kampus Trisakti, komputer itu menjadi momok
mahasiswa. Ekstranya, ini logicalnya gimana sih? Menata logical
berpikir, kan itu? Kalau nggak bisa nangkap, kan bingung mau mulai
dari mana? Tapi ternyata pesertanya ndak hanya mahasiswa. Banyak juga
orang-orang dari perusahaan. Cuma saya tahunya belakangan, “Saya dulu
belajar di situ”. Tahun 1974 kita mulai.

Di awal pendirian kursus itu, apa hambatannya?
Hambatannya itu dari segi saya yang memulai, otomatis antara percaya
dan tidak percaya, bisa saya jalankan nggak? Itu pertama. Tapi karena
didorong terus oleh ayah, akhirnya ya sudah…. Kebetulan prinsip
saya, kalau saya melangkah saya harus melangkah lebih baik. Itu
prinsip yang saya lakukan. Jadi ndak pernah mundur kalau sudah berani
melangkah. Itu semangatnya yang menang. Hambatannya, saya tidak
berpikir banyak hambatan karena saya juga tidak mempunyai suatu
ambisi yang terlalu terang-terangan. Jadi kalau kelasnya penuh,
berhasil! Iya, kan? Yang penting biaya hidup keluarga tertutup
ha..ha..ha.. Dan memang kehidupan keluarga kita digantungkan ke
tangan kita. Prinsipnya begitu mereka mau mendaftar, saya harus
melayani mereka dengan baik. Tidak ada target apa-apa, yang penting
setiap kelas harus penuh. Itu saja target minimal ya? Kita sudah
pakai nama Modern Computer Course, terkenal dengan MCC waktu itu.
Dari namanya sudah bagus lho…modern ha…ha…ha… Itu visi ayah.

Mengapa waktu itu memilih usaha bidang pendidikan, bukan usaha yang
lain?
Sebenarnya di luar usaha pendidikan, karena ayah seorang wirausaha,
itu segala macam usaha pernah dilakukan. Waktu kita kecil, ayah usaha
di bidang distribusi, mengambil barang dari pabrik lalu dijual ke
toko-toko. Lalu pernah jatuh karena ayah ditipu cek kosong waktu itu.
Ibu juga sudah mulai dengan wirausaha makanan. Jadi segala usaha
sudah dilakukan. Terus ayah melihat potensi saya ada, “Ya,
udah…kamu jadi guru saja!” Jadi saya sendiri tidak berpikir ke
usaha yang lain. Karena saya pikir, saya bisanya ya itu.

Dari sebuah kursus, lalu bagaimana cara mengembangkannya hingga
menjadi besar?
Jadi kita mulai dari rumah, paling punya tiga shift, pagi, siang,
malam. Begitu mulai penuh, saya mulai berpikir kenapa tidak
dibesarkan (kelasnya). Tapi kalau itu kan kita perlu uang? Uangnya
dari mana? Ayah bilang, “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan
pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, ke sananya maju terus”.
Beliau berpikir untuk kerjasama dengan panti asuhan di Kramat Raya.
Kita main ke sana terus kita bilang, “Kita punya ide ini, bagaimana
kalau kita share, bagi hasil?” Akhirnya kita mulai, pokoknya semua
pekerjaan kita yang lakukan, nanti dari hasil kalau kita punya hasil
yang lebih, hasilnya kita bagi dua. Kita berpikir kalau kita lakukan
itu, ada suatu nilai sosial yang kita tanam. Jadi di samping usaha,
ada yang kita bantu, panti asuhannya. Filosofinya itu, dan mudah-
mudahan mendapat rahmat Tuhan. Kebetulan ayah juga orang yang sosial.

Perkembangan berikutnya?
Kalau di Kramat Raya kelasnya paralel, kalau yang diteras rumah saya
sendiri yang ngajar. Lalu untuk dibesarkan sebagai sekolah, kelasnya
harus bisa paralel. Berapa pun murid harus bisa ditampung. Jadi
filosofinya itu bagamana supaya kita bisa memenuhi ruangan. Jadi
awalnya kita punya empat ruangan.

Tapi benar…. mungkin karena misi sosialnya ada, perkembangannya
cepat. Kebetulan sekali tarifnya juga murah. Orang mulai ingin tahu
komputer itu apa sih? Jadi banyak sekali yang hadir dan gurunya bukan
saya sendiri akhirnya. Karena saya pernah bekerja di Pertamina, saya
tarik teman-teman. Murid-murid di Pertamina sudah calon guru, kan?
Lalu dari situ maju-maju, walau ada hambatan. Hambatannya waktu itu
pada saat kita belajar, kita menarik guru dari tempat yang sama. Jadi
sempat goyang oleh tuntutan kelompok yang kuat, menuntut suatu
kondisi yang lebih baik. Waktu itu kita waduh… berat juga kalau
bentuk seperti ini diikuti, lain kali diulang lagi, ya? Tapi ya
sudahlah kita mundur, mereka yang main-main seperti itu ndak usahlah,
kita cari staf lain.

Dari situ kita belajar untuk mencari tenaga tidak dari satu tempat.
Akhirnya kita hubungi Departemen Keuangan dan departemen pemerintah
lainnya, banyak yang sudah belajar komputer, kan? Lalu berjalan,
makin banyak muridnya, lalu mereka pada bertanya, “Mengapa bentuknya
kursus-kursus? Kami belajar dapat pengetahuan, tapi kami tidak
mendapat status sosial yang lebih baik?” Kebetulan yang ngambil itu
benar-benar anak yang lulus SMA yang dia tidak ngambil perguruan
tinggi. Beda dengan yang saya mulai di Grogol, anak-anak mahasiswa
yang sudah punya status sosial. Jadi kalau di Kramat Raya itu umum
banget. Jadi anak-anak SMA yang tidak bisa bayar kuliah masuk ke
sana. Itu yang mentriger kita buka akademi saja. Dan kebetulan ayah
termasuk tipe orang yang apa pun kalau dia ditantang, ditangkap. Itu
gaya wirausahanya, “Mana…? Kita buka saja akademi komputer!”

Kapan dimulai?
Sekitar 80-an, ya kita mulai akademi tahun 1981. Saya
bilang…waduh…masih mikir-mikir. Lebih banyak perhitungan. Sulit
dong minta akademi? Karena dari pengalaman di Trisakti, saya pernah
bekerja di sana, banyak sekali mahasiswa demo. Mulai 1974-1980 itu
banyak sekali demo, Malari dan semacamnya itu ya. Karena itu saya
bilang, waduh! Saya paling takut kalau didemo mahasiswa ha..ha..ha…

Sampai sekarang masih takut?
Kalau sekarang tidak. Karena kita belajar banyak dalam pertumbuhan.
Waktu itu sempat terpikir, “Waduh… bagaimana kalau anak-anak yang
tidak tahu filosofi apa-apa tiba-tiba menuntut sesuatu?” Kalau soal
perizinan kita sudah pengalaman sekian tahun. Tapi ayah kan selalu
pantang menyerah. “Jangan khawatir, pokoknya apa yang kamu tidak bisa
sebutkan, saya yang akan lakukan”. Akhirnya benar, dicarikan seorang
tokoh pembina, saya anggap sebagai guru saya juga, yang waktu saya
masih SMA dia tokoh organisasi mahasiswa. Dia posisinya sebagai
direktur kemahasiswaan. Ini strategi ayah. Pokoknya kelemahan saya
dilengkapi ayah. Ya, sudah saya tidak mikir lagi, tabrak saja.

Begitulah 1981 kita mulai akademi. Hambatannya kalau mahasiswa
berkelompok seperti itu. Hambatan lain tetap keuangan. Tapi karena
orang-orang buka usaha itu jiwanya pokoknya jangan takut apa pun.
Kalau masih bisa didefinisikan, pasti bisa diselesaikan. Begitu bisa
didefinisikan, akhirnya ada titik terang. Nah, masalah gedung ayah
bilang, “Dalam dua hari saya akan jawab!” Benar. Begitu saya bilang
itu, langsung dia main ke tempat Akademi Teknik Komputer yang pertama
kita dirikan. Main ketemu pemiliknya, nggak kenal, tabrak aja! Kita
nggak punya uang datang ke situ. Ada gedung kosong di belakang yang
nggak dipakai, kita bilang “Boleh nggak kita pakai gudangnya?” Ya,
kita nggak muluklah nggak pakai gedung yang bagus, seadanya saja.
Nah, kita sudah punya tempatnya. Akhirnya kita nggak bisa mundur.
Saya desain kurikulum, termasuk konsep-konsep administrasi. Dari segi
kurikulum, berpikirnya sederhana.

Bahannya dari mana, karena waktu itu belum banyak acuan?
Belum ada. Mungkin akademi komputer sudah ada Budi Luhur yang duluan
tahun 1978, kita mulai 1981. Jadi kita hanya ada sedikit gambaran.
Karena itu para siswa kursus kita melihat ke situ, “Kami lebih kok
dari mereka, kenapa kita nggak muncul?” Semangat siswanya seperti
itu. “Ya, sudah kalau kalian percaya kita coba”. Jadi kurikulum kita
rancang dengan pendekatan pengetahuan yang mana saya harus bisa
memuaskan semua. Paling mudah, kan? Kalau sampai ada guru yang tidak
hadir, saya datang, saya selalu menjadi pengganti. Saya pikir kalau
ini perguruan tinggi, ada dosen tidak datang, karena kita ingin
melayani mahasiswa, kan saya harus turun? Semua mata kuliah saya
tawarkan. Amankan? Saya sendiri tidak turun mengajar, hanya kalau
ndak ada gurunya saya yang ngajar sekali-sekali. Benar, 1981 kita
mulai, lalu kita rekrut teman-teman dari Trisakti untuk jadi dosen.
Tapi saya tidak ambil angkatan saya, tapi angkatan adik saya.

Apa alasannya?
Tidak tahu, ada suatu feeling yang mengatakan, mungkin saya lebih
mudah mendorong anak-anak yang lebih muda dari saya, daripada teman
sebaya. Jadi saya rekrut adik-adik angkatan saya. Tapi masalah di
tahun-tahun pertama di kampus ini, tiga orang tenaga pengajar tadi
berkirim surat kepada saya, mengundurkan diri. Tiga-tiganya hilang,
padahal mereka pengajar inti dan hebat-hebat. Tapi sudah karakter
saya, kalau ada masalah harus bisa diselesaikan. Ya, tapi saya tidak
berusaha menarik. Saya kalau sudah dibuat seperti itu, ya sudah.
Akhirnya saya turun ke seluruh mahasiswa, saya sampaikan jangan
khawatir kita jalan terus, saya ngajar sendiri.

Mengajar berapa kelas?
Waktu itu kita hanya mengendalikan dua ruangan, jadi minimal saya
harus punya satu partner. Tapi dari guru yang lain, guru part time,
kita masih punya. Akhirnya kita menggunakan part time untuk mencari
pengganti. Itu pengalaman yang nggak boleh diulang.

Kapan mengalami percepatan pertumbuhan dan apa faktor-faktornya? ….
Jadi kalau dari awal, langkah yang kita lakukan adalah berbuat sebaik
mungkin melayani para siswa. Itu strategi yang saya lakukan. Karena
itu tumbuhnya pelan. Sampai suatu saat tahun 1995, kita punya
mahasiswa tujuh ribu, gedungnya kita baru punya satu yang lengkap.
Itu pun dibangun mulai 1984, tiap dua tahun kita menambah ruangan
sampai 1995. Kita mulai program S-2 tahun 1993 sebagai suatu program
untuk mengangkat image, otomatis kita harus merekrut orang yang lebih
baik. Kemudian belajar memenej teman-teman yang pengetahuannya di
atas saya. Nggak gampang juga, susah juga! Biasanya teman-teman di
atas kita, kalau ditarik dia langsung positioning diri, kan? Dari
sisi lebih pengetahuannya oke, karena kita undang memang karena itu.

Tapi kadang ada satu rasa sombong yang mengakibatkan mereka lupa,
dengan meremehkan organisasi kita yang lebih besar. Ini sempat
terjadi. Padahal ini adalah dosen yang kita didik melalui beasiswa
dinas. Itu kegagalan pertama kita menentukan resource. Kita kirim ke
luar negeri untuk S-3 tapi gagal. Itu hampir membalikkan organisasi
kita, sehingga terpaksa kita lepas. Pada saat itu saya bertemu teman
yang mempunyai filosofi berbeda dengan approach yang saya pakai.
Kawan ini bilang, “Kalau kita ingin maju kita harus tentukan ujungnya
dulu, sasaran”. Kalau saya kan didorong dari bawah. Jadi kalau kawan
ini, ditentukan sasarannya dulu, terus kita uber. Sehingga sejak 1995
itu mulai lebih cepat. Sekitar enam tahun berikutnya, dari 7 ribu
mahasiswa menjadi 22 ribu. Ini karena strategi teman tadi yang kita
pakai.

Siapa saja yang mendorong kemajuan tersebut?
Tim inti kita sekarang. Jadi filosofi yang saya belajar dari kawan-
kawan ini adalah kalau mau melakukan sesuatu, lakukan sesuatu yang
besar sekaligus karena capeknya sama. Jangan yang biasa-biasa.

Apa inti strategi Anda sehingga bisa membangun universitas yang pesat
perkembangannya?
Kita memang punya tim inti. Di dalam tim tadi kita selalu mendorong
bahwa sebenarnya kita punya visi. Visi kita adalah menjadi panutan.
Terus pada waktu diskusi, yang disebut panutan itu apa? Harus bisa
jadi contoh kan bagi yang lain? Mengukurnya bagaimana? Nah, kita
harus membuat langkah yang berbeda dari kawan-kawan lain. Langkah
pertama yang kita lakukan adalah ISO. Jadi memakai bakuan mutu ISO
9001 tahun 1997. Pesannya, kita harus beda dengan kawan-kawan lain.
Kalau berbeda harus inovasi, kan? Padahal awalnya kita ISO baru
belajar. Tapi berani dululah.

Setelah berjalan, ISO itu benar-benar suatu konsep yang bagus. Karena
digunakan oleh banyak usaha dan perusahaan. Konsep berpikirnya bagus
dan indah sekali. Antara lain disampaikan, ‘tentukan sasaran yang
ingin Anda capai’, ‘semua sasaran harus bisa diukur’, ‘apa yang Anda
tulis harus bisa dilaksanakan’. Kita belajar banyak dari konsep itu,
bahwa kita tidak boleh berjanji sesuatu yang kita tidak bisa berikan.
Karena itu bisa menjatuhkan kita. Kita harus menanamkan kepercayaan
kepada pelanggan. Kalau kita janji A, harus diberikan A, dan semuanya
harus bisa diukur. Dari situ kita menerapkan konsep-konsep yang
berbeda dari kawan-kawan lain, misalnya pertemuan dalam suatu kelas.
Kita define per kelas dalam satu semester, dan kalau ada dosen yang
tidak masuk, kita harus bisa uber sampai ada kelas. Kalau perlu hari
minggu kuliah. Sekalian ini menanam konsep kepada mahasiswa, kalau
dia dirugikan, dia boleh berteriak kepada kita. Karena ini alat
kontrol, mereka harus berteriak. Memang babak belur.

Babak belurnya?
Babak belurnya, teriakan tahun pertama itu tidak di sektor akademik
saja. Wah…gila juga ini! Kita sudah berusaha merapikan bagian
akademik, teriakannya di bagian-bagian lain. Keseluruhan akhirnya.
Berarti tantangan bagi kita untuk bisa memuaskan para pelanggan kita
di semua sektor. Itu kan input? Dulu kita tidak berpikir sejauh itu.
Jadi itu yang menarik, sehingga kita belajar. Itu yang mendorong
kita. Akhirnya kita membuat suatu plan yang bisa kita definisikan.
Begitu tim berani mendefinisikan, tugas saya nguber tim. Tidak terasa
itu tercapai, yang mengakibatkan pelanggan percaya kembali kepada
tim. Biar pun berat karena kita harus berubah. Kalau tahun ini kita
lebih ingin mengubah konsep berpikir.

Perubahan seperti apa kira-kira?
Kalau kemarin ISO itu tentang tujuan dan sebagainya. Sekarang kita
bisa seperti ini dan diakui masyarakat. Sehingga pengalaman yang kita
rasakan ini, kita ingin turunkan secepatnya kepada para mahasiswa
supaya mereka juga berhasil juga nantinya. Jadi memang di dalam
perjalanan, katakan kalau ada demo mahasiswa saat ini, kalau di
tempat lain pimpinan menghindar, ya. Rata-rata tidak mau menemui,
kan? Kalau kita berpikir karena mereka ini mahasiswa timur, pasti
mereka ingin menyampaikan sesuatu feedback. Kalau mereka ingin
menyampaikan feedback kepada kita, kenapa kita ndak mau menemui?
Justru kita harus cari secepat mungkin. Dan harus dididik
mahasiswanya. “Kalau Anda mau demo boleh, tapi misi demonya apa?
Menyampaikan kritik kepada kita, kenapa tidak bertemu kita?”

Jadi filosofinya yang kita tanamkan. “Kalau Anda mau menyampaikan
itu, ngapain pasang-pasang spanduk atau rame-rame di lapangan? Nggak
sampai juga kalau saya tidak dengar, atau kalau saya pura-pura ndak
dengar. Misinya kan mau menyampaikan, datang saja ketuk pintu. Anda
mau ngomong atau Anda mau marah di sini juga boleh”. Jadi filosofinya
yang kita ubah. Dan cukup baik hasilnya. Mereka itu senang kalau
didengar, ya? Begitu kita dengar, meskipun kita katakan “Sorry saya
tidak bisa melaksanakan yang kamu minta….” Ndak marah juga. Mengapa
kita takut?

Salah satu keberhasilan lembaga ini adalah kerjasamanya dengan
lembaga lain. Bagaimana Anda menjalankan strategi ini?
Memang mengelola pendidikan itu bukan suatu proses yang begitu satu
proses selesai, terus kita selesai, tidak ada after sales. Kalau di
industri kan mereka pakai, begitu jual, ada after sales. Konsep
perguruan tinggi kan nggak? Lepas dari perguruan tinggi itu urusan
masing-masing. Dia tak berhasil ya dukamu, dia berhasil ya untungmu,
begitu konsep umum, ya? Cuma kita berpikir, kalau mereka tidak
berhasil, ya kita sedikit berdosa, kan? Artinya kita salah dong dalam
mengarahkan mereka? Iya, kan? Jadi kita berpikir, minimal kita kasih
senjata sedikit lagi dong! Yang harus kita lengkapi, yang dia
kemampuan minimalnya secara cepat bisa sama dengan pasar. Karena itu
kita mulai bekerjasama dengan Cisco, Microsoft, IBM, itu antara lain.
Tujuannya adalah mentransfer pengetahuan-pengetahuan up to date yang
mereka pakai di dunia usaha ini untuk bisa dikuasai oleh mahasiswa.
Biar pun itu tidak masuk di kurikulum. Kurikulum kan kita bingung
karena diatur pemerintah. Itu dipasang kan beban berat?

Soal kurikulum dalam konsep Anda, apa saja yang perlu ditambahkan?
Dari segi kurikulum kalau zaman dulu kan banyak diatur pemerintah.
Tapi sekarang sudah banyak kelonggaran. Sehingga kita melihat,
wah…. ini lebih mudah lagi untuk mencapai tujuan dan sasaran kita.
Yang sebenarnya kita lakukan dalam kurikulum ini, akhirnya kembali ke
prinsip lagi. Filosofi dasar yang harus kita tanam kepada mahasiswa
adalah suatu pengantar untuk belajar. Apa pun ilmunya, jadi bagaimana
cara kita mendidik mahasiswa tentang cara belajar untuk belajar. Ini
yang tidak ada di dunia pendidikan. Sekarang ini yang saya lihat,
karena banyak dosennya yang part time akhirnya ‘pokoknya aku
ngajar…ngerti sukamu nggak ngerti sukamu’.

Dampaknya nggak ada inovation. Kondisi mahasiswa sekarang kalau tidak
disuruh tidak jalan, nggak ngerti inovation. Belajar pun biasa
dikebut dua hari, kalau nilainya tinggi ada kebanggaan. Makanya kita
adakan perubahan total. Jadi konsepnya, materi tidak harus habis,
yang penting cara belajarnya bisa tertanam. Sehingga mereka bisa
belajar lebih banyak daripada apa yang kita berikan. Otomatis ya,
semangatnya harus ditanamkan, cari bacaan sebanyak mungkin, cari
informasi sebanyak mungkin. Kebetulan saya kemarin mencoba dalam
kelas entrepreneur, capek! Capeknya, pada awal di kelas saya
tanya, “Ini kalian masuk kelas entrepreneur karena Anda mau jadi
entrepreneur atau karena dipaksa oleh sistem kita?”.

Dan jawaban mereka?
Jawabnya, “Kami diwajibkan…” Wah, saya kecewa. Padahal saya
mengorbankan waktu malam untuk mengajar mereka. Saya bilang, “Kalau
Anda hanya untuk pengetahuan dan tidak untuk diterapkan, saya rugi!”.
Lalu saya balik, “Di akhir kelas saya ingin Anda mengubah konsep
bahwa akhirnya Anda ingin jadi entrepreneur, karena Anda tahu semua
cara entrepreneur itu bagaimana”. Lalu kita kasih PR (pekerjaan
rumah), otomatis dong, proses belajar kok. Apa yang harus Anda
belajar, topiknya ini, belajar buku ini, cari dari internet ini, di
kelas kita tidak ngajar. Saya anggap di kelas itu mereka sudah
belajar, kita bicara suatu topik, tinggal mereka menentukan apa yang
mau didiskusikan. Lalu saya undang para wirausahawan dan dunia
industri, dan mereka boleh menggali sebanyak mungkin dari background
pengetahuan minimal yang mereka pakai.

Jadi pada awal bagaimana, perlu uang apa nggak, wirausaha, kan? Dan
akhirnya mereka melihat bahwa teman-teman yang kita datangkan
semuanya memulai usaha tanpa uang. Semua start dari zero. Maka begitu
akhir kelas mereka membuat business plan, disuruh presentasi, sudah
hebat-hebat. Nilai kita umumkan, lalu saya inginkan feedback; “Apakah
Anda ingin jadi entrepreneur?” Semua bilang oke, malah ada yang sudah
berpikir “Saya mau di industri ini, ini, ini…”. Ada juga yang
bilang, “Ini adalah proses belajar yang paling menyenangkan yang
pernah saya alami…” Sudah bagus, kan? Padahal kita nggak ngajar,
hanya skenario kita buat sedemikian rupa dan mereka sendiri yang
belajar. Tapi dampaknya mereka merasa itu yang paling tinggi
nilainya. Jadi memang prosesnya yang harus diubah di perguruan tinggi
itu.

Dunia pendidikan adalah dunia idealisme. Sementara pendidikan sendiri
jika tidak dikelola secara profesional juga tidak jalan. Bagaimana
Anda menyeimbangkan keduanya?
Sebenarnya terpisah. Sisi idealisme kita bukannya membentuk lulusan
istilahnya, tapi memvalue-added. Menanamkan suatu value added kepada
mahasiswa yang masuk sehingga menjadi lulusan, itu adalah pengetahuan
dan nilai-nilai. Itu yang kita tanamkan. Itu idealismenya. Jadi usaha
yang kita lakukan dalam memenej pengetahuan yang kita tanam tadi, dan
itu yang disebut bisnisnya ya, mengelolanya. Kalau kita compare,
mengelola perguruan tinggi dengan mengelola bisnis itu sama. Tidak
ada bedanya. Kan di situ ada faktor finance, ada faktor operasional?
Bedanya, kalau di pabrik kan dia milih barang mentah dikelola menjadi
barang jadi. Kalau di rumah sakit ya menyembuhkan penyakitnya. Kalau
di kita kan hampir mirip dengan di rumah sakit. Umumnya kita menambah
value, itu yang kita garap. Di bisnis sama, tidak beda ya? Makanya
teman-teman banyak yang mengatakan, kalau mengelola perguruan tinggi
dengan gaya bisnis itu seolah-olah berdosa. Banyak yang mengungkapkan
demikian. Tapi kalau filosofinya bagaimana kita berusaha dengan
profesional untuk supaya targetnya tercapai, sama (dengan bisnis:
red). Kawan-kawan di dunia industri tetap bilang ini bisnis ya.

Cuma bisnis yang muatannya lain?
Ya, tetap ada suatu nilai idealismenya. Ya, memang harusnya bisalah.

Ke depan, cita-cita apalagi yang ingin Anda wujudkan setelah dari
semua yang Anda bangun selama ini?
Kalau di perguruan tinggi kita kan mencoba memberikan contoh, dan
kebetulan ini kegiatan terbesar yang kita lakukan. Ternyata kalau
kita menerima mahasiswa masuk, banyak konsep berpikir yang salah yang
ditanamkan di pendidikan sebelumnya. Di keluarga kita tidak bisa
mempengaruhi karena itu hak masing-masing keluarga. Minimal yang di
sekolah-sekolah di tingkat bawahnya. Yang paling mendasar dampak yang
kita rasakan di perguruan tinggi adalah kemampuan bertanya. Waduh…
mahasiswa yang berani bertanya… takut kan mereka bertanya? Karena ini
budaya. Padahal budaya bertanya itu, kalau mereka bertanya mereka
bisa explore segala macam. Minimal dia akan bertanya terus pada diri
sendiri. Itu akhirnya kita berpikir, kita harus memberi contoh juga
pada tingkat di bawahnya.

Jadi kita akan mendirikan sekolah. Tapi model kita tidak akan
berbentuk seperti yang sudah ada. Biar pun model ini kalau kita lihat
layer kita masih pasang di layer atas. Karena kita belum berani
pasang di layer bawah ditinjau dari segi ekonominya. Tapi suatu saat
kita akan turun jugalah. Jadi kita masih pakai yah…menanamkan ini
pada yang atas karena kita juga lagi belajar ya? Proses belajar kan
harus berhasil? Jadi kita menanamnya di atas, mungkin pengalaman ini
nanti akan coba kita turunkan sebagai model. Mudah-mudahan model ini
tidak kalah di perguruan tinggi, secara cepat kalau ikut program
lain. Kalau ini dilewati Indonesia akan bangun lebih cepat, kan?

Hal apa yang paling memotivasi Anda untuk berkarya di bidang ini?
Pada awal berdiri kita punya moto, bahwa kita ingin berperan
membangun bangsa melalui pengetahuan. Namanya kebetulan juga Bina
Nusantara. Itu pun nama yang diberikan kawan-kawan seperjuangan ayah
di masa penjajahan. Dan itu menjadi spirit seluruh civitas akademik
kita. Itulah kenapa dinamakan Bina Nusantara, karena kita punya cita-
cita melalui pendidikan ini kita harus bisa berperan membangun bangsa
Indonesia. Itu folosofi yang ditanamkan oleh penasihat kawan
seperjuangan ayah. Pada awal mulai mereka juga bilang, “Jangan
mengecewakan kami ya? Jika Anda mengundang kami, ikuti apa pun
tujuan, visi. Jangan sampai Anda hanya pinjam nama tetapi tidak
bertanggung jawab!” Itu yang selalu kita ingat. Memang masa itu waktu
kita tumbuh, semua perguruan tinggi pakai nama leader ya…jenderal dan
sebagainya. Kalau sekarang sudah hilang ya. Cuma saya bilang waktu
itu, “Saya tidak akan pernah mencatut nama. Karena tidak ada
gunanyalah nama-nama yang dipasang!” Iya, toh? Sampai hari ini kita
tidak pernah pasang.

Kalau spirit dari dalam Anda sendiri?
Kalau visi dasar saya sebagai individu adalah bagaimana saya melayani
banyak orang, sehingga mereka bisa berguna bagi negara dan bangsa
ini. Yang menjadi panutan paling kuat bagi saya adalah Ibu Theresa.
Sentuhan kemanusiaannya…

Bagaimana Anda memaknai perjalanan hidup dan kesuksesan ini?
Saya merasakan bahwa apa pun yang kita capai saat ini adalah bukan
dari individu. Kadang-kadang saya berpikir bahwa Binus ini bukan
milik saya, tapi Binus ini milik Tuhan yang dipercayakan kepada saya.
Sehingga saya harus jaga baik-baik, sehingga ya tidak mengecewakan
Pemiliknya…. Filosofi sebenarnya itu. Lebih mudah, kan? Dari pada
kalau milik kita, kita bisa nggak tidur! Iya, kan? Kalau dibalik
seperti itu, ini hanya milik Yang di Atas, kita hanya diberi
kepercayaan, kan kita tinggal membagikan itu kepada kawan-kawan yang
lain dan mereka rata-rata ikut setuju. Lebih enak lagi, kan? Sehingga
gerakannya saya bilang, “Saya bukan tipe seorang pemimpin yang akan
memonitor day to day apa yang kalian lakukan, tapi yang ingin saya
tanamkan adalah bahwa pengawasnya bukan saya, pengawasnya adalah
Pemiliknya”. Lebih enak lagi, kan? []

 

 

SUMBER :

https://penyegarsemangat.wordpress.com/2008/12/24/sejarah-berdirinya-binus/

 

 

 

Gandeng Jepang, Binus Buka Program Studi Teknik Otomotif dan Robotik!

 

Selasa, 26 Agustus 2014 | 11:15 WIB

M LATIEF

Rektor Binus University Prof Harjanto Prabowo (kedua dari kiri) dan CEO of ASO College Group, Yutaka Aso, pada jumpa pers Binus-ASO School of Engineering (Base) di The Joseph Wibowo Center, Senin (25/8/2014).

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Bina Nusantara (Binus) University bekerjasama dengan ASO College Jepang meluncurkan Binus-ASO School of Engineering (Base). Base merupakan program studi S-1 yang menawarkan dua bidang keilmuan, yaitu Automotive & Robotics Engineering dan Product Design Engineering.
Rektor Binus University Prof Harjanto Prabowo di The Joseph Wibowo Center, Jakarta, mengatakan bahwa program khusus tersebut diperlukan Binus untuk menjawab tantangan global dalam melahirkan para insinyur muda dan ahli di bidang otomotif, robotik, serta desain produk. Mereka diharapkan mampu bersaing untuk menciptakan beragam inovasi.
"Mereka akan dibekali kurikulum berbasis industri yang disampaikan dengan bahasa pengantar Inggris. Mereka juga mendapat tambahan pelajaran bahasa Jepang," kata Harjanto sebelum peluncuran program baru tersebut, Senin (25/8/2014).
"Di semester 6 dan 7 nanti mahasiswa juga akan diberi kesempatan mengikuti summer course di Jepang. Di sana mereka akan belajar dan mengenyam pengalaman langsung bagaimana berjalannya sebuah industri di Jepang," tambahnya.
CEO of ASO College Group, Yutaka Aso, mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang dinamis dan mengalami perkembangan pesat pada industri bisnis automobile dan teknologi. Tingginya jumlah penduduk Indonesia merupakan pasar bagi industri bisnis dunia.
"Dalam hal ini adalah demand akan tenaga ahli untuk mengisi banyak kekosongan di perusahaan-perusahaan Jepang," ujar Yutaka.
Untuk kerjasama ini, lanjut dia, pihaknya akan mengisi keahlian mahasiswa di bidang product design. Sementara itu, Binus yang sudah lebih dulu berpengalaman dengan bidang teknik, akan fokus pada industrial engineering.

 

 

SUMBER :

http://edukasi.kompas.com/read/2014/08/26/11150471/Gandeng.Jepang.Binus.Buka.Program.Studi.Teknik.Otomotif.dan.Robotik

 

 

Bina Nusantara - 30 Years and Counting!

 

30 Years and Counting!

0 comments, 14/03/2012, by The Writerpreneur, in EDUCATION, international school

Bina Nusantara (BINUS) has for three decades maintained its education excellence toward nurturing today’s generation to reap tomorrow’s benefits.

Founded by Joseph Wibowo Hadipoespito and his daughter Theresia Widya Suryaningsih, BINUS has gone through many stages and achieved a fine reputation in the realm of education.

Behind the success of BINUS lays Joseph’s philosophy of the “3K Strategy” – Kesempatan (opportunity), Keberanian yang bertanggung jawab (responsible courage) and Kerja keras (hard work). And Theresia added another “3K – Keberuntungan (good fortune), Kemauan (willingness) and Kepercayaan kepada Tuhan (belief in God) – to form “6K Success Strategy”, which has hitherto been instilled in the spirit of Bina Nusantara.

binus international simprug - senior 4_1344832051

The name Bina Nusantara (bina=nurture, nusantara=archipelago) was given by Vice Adimiral R. Rudy Poerwana (posthumous) with the hope that the institution could become a means to increase the potential of people throughout the archipelago.

One of its units, BINUS International School is a proof that the institution has taken further steps in instilling young generation a love of learning.

The school is indeed one of few international schools in Indonesia that offer under one roof all of the three world-renowned IB (International Baccalaureate) Programmes; Primary Years Programme (PYP), Middle Years Programme (MYP) and Diploma Programme (DP).

Through the implementation of the IB programmes and in the efforts to excel as an IB World School, BINUS International School has scored achievements that reflect the school’s vision of providing a world-class community of proud and outstanding achievers.

The school really inspires its students to gain achievements in the areas of academic excellence, innovation and enterprise, sports and fitness, performing and visual arts, and service to the community.

In fact, there are a great number of BINUS’s students have shone the school’s reputation by becoming champions or runners-up in various competitions.

The students have engaged in competitions in math, science, economics, just to name a few. And these brilliant youngsters have risen in triumph with dozens of trophies, medals and certificates. No less interesting, the school has recently placed three students in the

binus serpong sma 2_1343460702Top 100 for the Mental Arithmetic Quest of World Mathematics Day.

In the field of physical education, BINUS International School has grabbed a significant number of championships in sports competitions of basketball, badminton, futsal and swimming.

In addition to the school’s shining achievement as one of the best performances for modern dance, BINUS International School has awarded an array of trophies and certificates for winning competitions in piano, guitar, vocal and art.

The promising IT programmes at BINUS International School have led many of its students to demonstrate their IT savvy. And many of the students have brought home dozens of trophies and certificates for winning competitions in hardware, web design, robotics and programming.

BINUS International School believes that adapting a good curriculum would be ineffective without the support of highly competent teachers.

Comprised of experienced professionals from Indonesia and overseas, teachers at BINUS International School make up a diverse group that adds to the school’s international ambience. This really helps to provide students with a clearer perspective on the international values.

In nurturing the students at best, BINUS International School has formed links and networks with other schools and institutions worldwide. These partnerships allow the school to engage in a variety of endeavours such as teacher trainings, strategic development and student immersion programmes.

BINUS Group has established a teacher training centre called WiTel (Widia Centre of Excellence for Teaching and Learning).

The presence of WiTel is to develop world-class education practitioners who are kept abreast of developments, trends and methods and approaches in the realm of education so as to bring out the best in all students at BINUS.

Teaching at BINUS is about inspiring one another to achieve personal best. In the pursuit of academic excellence, learning is more than just the academic knowledge and skills. It is about building hearts as well as minds. With the help of experienced teachers, BINUS places great focus on students; commitment and character – what BINUS calls ‘fighting spirit’.

All classes and extra-curricular activities at BINUS inspires students towards desirable lifelong work habits and the school-wide values of being resilient, respectful, ready and responsible.

Teaching and assessment strategies are delivered so that we nurture leaders who are creative, self-confident and principled. BINUS’s strategic alliances with reputable overseas schools help develop the cultural intelligence of the students, preparing them to be global citizens who are ready to make important contributions to the world around them.

The commitment of BINUS International School to being a world-class community means that the school benchmarks using international curriculums, international competitions, worldwide examinations and world-class enterprises. For our annual Project Week, the school offers 15–20 overseas trips to immerse students in a variety of cultures, schools and universities.

Immersion Programmes takes place every year where selected students will have the opportunity to go to top schools or universities abroad to experience new learning contexts.

BINUS’s Immersion Programmes empower students with new social and cultural awareness as well as inspiring them to learn best practices from other outstanding schools and their students.

For example, selected students will sit in classes at top schools in Singapore, China, Thailand and Australia. Likewise, BINUS International School also takes good care of overseas students immersing with the school here. These students will participate in Cultural Immersion Programmes and a vast range of out-of-classroom projects while enjoying their stay at BINUS’s state-of-the-art hall of residence, not far from the School, called BINUS SQUARE.

Participating in Cultural Immersion Programmes in either national or international destinations will give the opportunity to sit in lectures at top universities in not only Indonesia but also advanced countries such as the U.S. and Australia. This in line with the school’s long-term objective, which is standing out internationally as a school with graduates mostly accepted at top universities worldwide.

By Aulia R Sungkar. Published in Mind+ June-Aug 2011 issue.

Photos courtesy of Sekolah 123

 

SUMBER :

http://thewriterpreneur.com/30-years-and-counting/

Bina Nusantara

 

Selasa, 18 Desember 2012

Bina Nusantara

Universitas Bina Nusantara juga dikenal dengan Binus University adalah salah satu universitas swasta Indonesia yang berlokasi di Jakarta, Indonesia. Universitas ini bernaung di bawah lembaga pendidikan Bina Nusantara.

--> -->

Joseph Wibowo Hadipoespito adalah ketua dan pendiri YAYASAN BINA NUSANTARA. Beliau  lahir pada 21 Oktober 1918.
Theresia Widia Soerjaningsih adalah putri dari Joseph Wibowo dan merupakan salah satu pendiri utama BINUS. Ia lahir di Malang, Jawa Timur, 19 Oktober 1950. Seluruh hidupnya didedikasikan bagi pengembangan dunia pendidikan di Indonesia melalui lembaga BINUS. Beliau meninggal pada tahun 2004 silam.
Joseph Wibowo dan Theresia Widia Soerjaningsih ingin berkontribusi dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan pada awal tahun 1974. Ini merupakan cikal bakal lahirnya BINUS sebagai lembaga pendidikan kelas dunia.

Universitas Bina Nusantara pada awalnya berasal dari sebuah institusi pelatihan komputer Modern Computer Course yang didirikan pada 21 Oktober 1974.Seiring dengan perkembangan, Modern Computer Course kemudian berkembang menjadi Akademi Teknik Komputer (ATK) pada 1 Juli 1981. Akademi ini menawarkan pendidikan manajemen informatika dan teknik informatika. Tiga tahun kemudian pada 13 Juli 1984 ATK mendapatkan status terdaftar dan berubah menjadi AMIK Jakarta. Pada 1 Juli 1985, AMIK membuka kursus di bidang komputerisasi akuntansi. AMIK mulai menggunakan nama Bina Nusantara pada 21 September 1985.

AMIK mendapatkan penghargaan akademi komputer terbaik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 17 Maret 1986. AMIK Bina Nusantara kemudian membentuk STMIK (Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer) Bina Nusantara pada 1 Juli 1986. Institusi ini kemudian menawarkan program studi sarjana (S1) di bidang manajemen informatika dan teknik informatika.

Pada 9 November 1987 AMIK Bina Nusantara bergabung dengan STMIK Bina Nusantara membentuk satu institusi pendidikan yang menawarkan program studi diploma (D3) dan strata 1 (S1). STMIK Bina Nusantara memperoleh status disamakan untuk semua program studi pada 18 Maret1992. STMIK Bina Nusantara kemudian membuka program studi pascasarjana manajemen sistem informasi, pertama di Indonesia pada 10 Mei 1993.

Universitas Bina Nusantara kemudian didirikan pada 8 Agustus 1996. STMIK Bina Nusantara kemudian bergabung dengan Universitas Bina Nusantara pada 20 Desember 1998. Saat ini, Universitas Bina Nusantara memiliki program pendidikan: Sekolah Sistem Informasi, Sekolah Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Sekolah Bisnis dan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, Sekolah Desain, Fakultas Humaniora, Magister Teknik Informatika, Magister Manajemen Sistem Informasi, Magister Manajemen (Sekolah Bisnis), dan Doktor Riset Manajemen.

Untuk mewujudkan BINUS berskalan nasional dan internasional, BINA NUSANTARA dibantu IBM mulai mengimplementasikan aplikasi SAP di unit-unit yang ada dan proyeknya telah selesai pada tahun 2009. SAP ini merupakan strategi tools untuk mengawal BINUS menjadi a WORLD-class Knowledge Institution.

Visi dan Misi Binus University :

Visi : A World-class University
         ...... in continuous pursuit of innovation and enterprise. 
Misi : the mission of BINUS University is to contribute to the global community through the provision of world-class education by :

·         Recognizing and rewarding the most creative and value-adding talents

·         Providing a world-class teaching,learning,and research experience that fosters excellence in scholarship,innovation,and entrepreneurship

·         Creating outstanding leaders for global community

·         Conducting professional services with an emphasis on application of knowledge to the society

Improving the quality life of indonesian and the internasional community

dari sisi library dukungan berupa layanan informasi, yaitu koleksi lengkap yang dapat di akses pengguna dengan mudah, cepat, dan tepat. sedangkan dukungan dari sisi knownledge center berupa dokumentasi lokal konten, yaitu data base yang dihasilkan oleh BINUSIAN, dissebut juga koleksi Binusiana. koleksi binusiana merupakan sumber informasi guna mengembangkan knownledge berikutnya. perkembangan knownledge di BINUS mencerminkan perkembangan ilmu yang dilakukan di universitas tersebut.
Prisanti Ayunisa
Michelle.K
Steviany
Tumpal
Consili
Peter

SUMBER :

http://kelompokapple.blogspot.ca/

 

 

 

Melamar Jadi Dosen ATK

 

Seperti biasa, pagi itu aku bangun pagi sekitar jam 4.30 dan mulai mandi. O ya, hari ini adalah bulan Agustus 1982. Aku sudah bekerja sebagai peneliti bidang pangan di BPPT - sebuah lembaga think thank milik pemerintah - selama dua tahun persis (aku mulai kerja 8 Agustus 1980). Sebentar lagi, tepatnya dua bulan lagi, aku bakalan menikah dengan orang yang sudah aku pacari selama 1,5 tahun ini. Namanya Susi, ia adalah seorang anggota militer dengan pangkat Sertu.
Entah apa yang membuat aku mempunyai ide untuk bekerja sambilan sebagai dosen, di samping pekerjaan utamaku sebagai peneliti di BPPT. Ini yang mungkin disebut sebagai "indera keenam" atau "bisikan ajaib". Mengapa ? Karena pekerjaanku di BPPT saat itu sudah bisa dibilang sangat mantap. Kantor paling modern se Jakarta, terletak di jalan yang paling terkenal di Indonesia - Jalan Thamrin, dengan gaji standar perusahaan minyak milik pemerintah. Ya, sewaktu aku melamar kerja di BPPT di pertengahan 1982, BPPT baru saja berganti nama. Nama lama adalah Divisi Advanced Technology Pertamina (Divisi lainnya yaitu Divisi Teknologi Penerbangan juga baru saja berubah nama menjadi PT. Nurtanio). Gaji awalku adalah Rp. 142.000, ditambah TSP (Tunjangan Selisih Penghasilan) sebesar Rp 75.000, dan masih ditambah uang lembur berkisar antara Rp 20.000-Rp 45.000. Yah total sekitar Rp 240.000, yang kalau dikurs dengan mata uang US Dollar saat itu 1 USD = Rp 425, maka gaji perbulanku adalah USD 600. Not bad at all, mengingat saya pegawai baru. Gaji kakakku yang bekerja di BRI waktu itu hanya separuh gajiku, yaitu Rp 118.000,-. Dengan gaji sebesar itu, saya bisa hidup layak kost di Jalan Belitung, Bogor. Malah bisa menabung beberapa di Bank Tabungan Negara yang tentunya saat itu masih numpang di Kantor Pos Besar Samping Kebun Raya Bogor.
Dengan berubahnya Divisi AT Pertamina menjadi BPPT di tahun 1978, proses mutasi dari pegawai Pertamina Gol. 6 menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) segera dimulai. Beberapa pegawai senior ditawari, apakah mau menjadi pegawai BPPT, PT. Nurtanio, atau tetap di Pertamina. Anehnya, hanya segelintir orang yang pikirannya "cukup waras" dan memilih Pertamina. Sebagian besar, memilih sebagai PNS yang gajinya standar sekali.
Tapi aku lain, aku mencurigai ada sesuatu yang bakal terjadi. Misalnya, gaji akan dipatok sesuai dengan pegawai negeri lain. Waktu gajiku di BPPT Rp 240.000 per bulan, pegawai PNS Gol III/a gajinya hanya Rp 75.000, malah tiga bulan pertama sebagai CPNS gajinya hanya Rp 50.000.
Aku memberontak. I have to do something, kataku. It's better to have a side job just in case something happens. Although I have to work in the evening (yeah, that's why people called to have a side job as "moonlighting" because we work while to moon shine...in the evening).
Pagi itu, seperti biasa aku numpang bis antar kota LIMAS, bis paling keren yang menjalani rute Bogor-Cililitan via Jagorawi. Ongkos sekali jalan kalau tidak salah Rp 400. Kalau ongkos naik bemo di Bogor tahun 1982 adalah Rp 50 sekali jalan. Bis LIMAS yang masih baru itu baunya wangi, jumlah penumpangnya pas tempat duduk, dan kita masih dihibur dengan alunan musik yang beraliran slow rock. Sayup-sayup terdengar lagu "Cat Size" dari penyanyi rocker wanita yang bertubuh mungil tapi kekar, Suzi Quattro !
Jalan tol sepanjang 44 km dilibas LIMAS dalam waktu setengah jam saja. Aku segera turun di depan Kodam Jaya (situasinya masih persis seperti saat ini, hanya jalan di depan Kodam waktu itu masih agak sempit). Aku menyeberang jalan untuk menunggu bis jemputan Mercedez Benz OH-11 warna krem dengan cat biru muda bertuliskan BPP Teknologi. Beberapa teman BPPT sudah menunggu di depan Kodam, ada Prasetio yang alumni Mesin ITB, ada alm. Pak Todo Tambunan yang alumni Jerman, ada Petrus Paranoan yang alumni Elektro ITS, ada Basri yang alumni Elektro ITB, dan yang paling mencolok ada orang yang namanya Tito yang kulitnya putih, pakai baju biru dari bahan combed cotton, dan celana kaki berbahan katun. Sebelum naik bus, saya beli koran KOMPAS dari anak asongan yang lewat. Koran Tri, Koran Tri, seru Petrus dan O ya, ada Anton Gunarto teman sekelas kakak saya Endang dari Agronomi IPB. Kompas halaman pertama saya baca, halaman kedua dibaca Petrus, dan halaman ketiga dibaca Anton. Sejak itu, bis yang AC-nya cukup dingin itu berjalan pelan menyusuri Jl. Otista, belok kiri di Jalan Diponegoro sebelah FKUI, masuk Jalan Imam Bonjol, dan belok kanan di bunderan HI, dan akhirnya sampailah kita di kantor, tepat pukul 07.10. Masih ada 20 menit sebelum kantor dimulai jam 07.30. Sepanjang perjalanan tadi, semuanya tidur atau baca koran, tapi yang namanya Tito itu ngomong terus, ada atau tidak ada yang ngajak ngomong (I will tell you later, belakangan Tito yang dipanggil "Tanpa Input Tanpa Output" juga menjadi dosen Binus. Bahkan anaknya yang bernama Adit menjadi mahasiswa bimbingan skripsiku. Anaknya secara fisik dan sifat persis dengan bapaknya, dan secara sadar ia menyebut dirinya "Kenthir". Klop !).
Setelah mengisi absen model ceklok merk AMANO, aku segera naik ke Lantai 5. Waktu itu aku didapuk sebagai ahli statistik untuk Studi Pengkajian Sistem Pedesaan Indonesia. Tugasnya mengajari staf lain dalam merancang pengambilan sampel dan menganalisis data berdasarkan teknik statistik, baik deskriptif maupun inferens. Satu ruang berukuran 6 x 8 meter waktu itu diisi dengan 13 orang staf. Kepala Studinya adalah Prayitno Ramona, alumnus FISIP UI. Anggota studinya beberapa dari IPB : Iding Chaidir (perikanan), Yanto Tatang (peternakan), Anton Gunarto (Agronomi), Soleh Iskandar (HPT), Suryo Handoto (Mekanisasi), Hariadi Wardi (Tanah) dan saya sendiri (Statistik). Yang dari UI ada Prayitno Ramona (FISIP), Dwi Yani (FISIP, anaknya Jendral A. Yani), dan ada beberapa orang UI lagi yang mulai akan keluar. Lalu dari UGM ada Mbak Tenong (Arsitek, putranya Prof. Gembong), Maryadi (Agronomi). Lalu ada Jane - cewek bule manis yang bekerja sebagai Senior Scientist. Satu lagi Senior Scientist adalah Dr. Manase Mallo (belakangan menjadi Dekan FISIP UI).
Di waktu jam istirahat, aku membaca kembali koran KOMPAS yang aku beli tadi. Tiba-tiba mataku tertuju pada iklan "LOWONGAN DOSEN, DIBUTUHKAN TENAGA DOSEN PARUH WAKTU UNTUK MATA KULIAH MATEMATIKA, STATISTIKA". Yang memasang iklan adalah AKADEMI TEHNIK KOMPUTER (ATK), Jl. Cideng Timur, Jakarta Pusat. Segera saya draft surat lamaran secara sembunyi-sembunyi untuk saya poskan nanti sore sesampainya di rumah di Bogor. O ya, waktu itu aku memutuskan tetap tinggal di Bogor semenjak aku lulus dan kerja di Jakarta. Bogor serasa dingin, dengan pohon-pohonnya yang besar dan rindang, dan hampir setiap hari hujan. Sedangkan Jakarta serasa berdebu. Aku akan tinggal di Jakarta setelah menikah, pikirku.
Sorenya, surat lamaran dosen untuk ATK aku kirimkan via Kantor Pos Besar Bogor yang letaknya persis di tepi Kebun Raya itu. Jarak kantor pos dengan pohon besar yang setiap siang digelayuti oleh ratusan kalong itu kira-kira hanya 50 meter. Setelah malam, tentu kalong kalong itu pada cari makan buah-buahan entah dimana.
Singkat kata, seminggu kemudian di rumah kostku di Jalan Belitung ada surat tiba. Dari ATK. Wah, mudah-mudahan aku diterima, doaku. Isinya undangan untuk wawancara, ditandatangani oleh Direktur ATK, Ir. Th. Widia S. Sebelumnya aku ingat, bahwa secara nama aku sudah kenal dengan Th. Widia ini karena aku pernah beli dua buah buku "Pemrograman COBOL" Jilid I dan Jilid II yang berwarna biru dan orange, langsung di tempat kursus MCC Jl. Makaliwe.
Siang itu, tanpa kesulitan saya bisa menemukan rumah yang dituju di Jl. Cideng Timur. Rumah ini rumah biasa bertipe 100 dengan arsitektur akhir tahun 1950an. Tidak terlalu bagus, tapi lumayan. Jaraknya dari jalan raya sekitar 20 meter masuk ke dalam. Saya mengetok pintu, dan ditemui oleh seseorang dari etnis Tionghoa. Badannya kekar, tingginya sekitar 170 cm, dan kelihatannya ia atlet, berumur sekitar 25 tahunan, orangnya cukup ganteng - mungkin seperti JuMong di film Korea yang dilihat isteri saya barusan.
"O, ini Pak Tri Djoko ya", sapanya. "Ya Pak", jawab aku. "Bapak Pak Ir. Th. Widia ya ?", tanyaku spontan. "O bukan, itu Ibu, bukan Bapak", katanya. "Nama saya Carmelus", tambahnya (terus terang aku agak tersipu-sipu salah nebak, kirain Th. Widia tuh cowok !
Singkat kata, aku diwawancara pernah mengajar Statistika atau tidak. Pernah, aku jawab saja begitu, karena minimal aku pernah jadi asisten dosen, walaupun mata kuliah Ekonomi Mikro dan Biologi. Tapi, sedikit berbohong asal tujuannya baik kan berpahala, pikirku. Sewaktu Pak Carmelus nanya apakah aku mau mengajar Matematik atau Statistik, aku milih Statistik saja karena itu memang bidang ilmu saya.
Dua minggu setelah itu, jadilah aku dosen Statistika di ATK, yang kuliah pertamanya dimulai awal September 1982. Aku jadi dosen angkatan kedua, dan menjadi dosen ke-10 di ATK. Lainnya adalah dosen Matematika seperti Pak Wikaria Gazali (kemudian menjadi Dekan MIPA), Pak Gerald Polla (kemudian jadi Rektor UBinus), Pak Sudadi Atmojo, dosen Bahasa Inggris seperti Ibu Devi Pitono (isteri dr. Pitono, dokter resmi UBinus), dan Ibu Inneke (kemudian menjadi Dekan Sastra), serta alm Pak Winokan yang ngajar Etika (beliau "Godfatther" atau Bapak baptisnya Ibu Th. Widia). Ruang dosennya berukuran 6 x 10 meter, yang didalamnya diisi oleh Ibu Th. Widia selaku Direktur ATK dan Pak Carmelus selaku Wadir Bidang Akademis, lalu ada Pak Efendi yang menangani tata usaha/gaji, dan beberapa dosen. Kita semua menempati ruang yang sama.
Rupanya ada hal yang menggembirakan dan yang kurang menggembirakan dari mengajar di ATK ini. Yang menggembirakan, the pay is OK. Aku mengajar 2 sks dan setiap sks diberi honor Rp 9.000 (USD 21) dan setiap 2 sks diberi uang transpor Rp 3.000 (USD 7.5). Jadi, total honorku sebulan adalah 4 x Rp 21.000 = Rp 84.000 (USD 200). Not bad, karena ini sudah sekitar 1/3 gajiku di BPPT yang sebesar USD 600.
Yang kurang menggembirakan, rupanya ATK ini masih menyewa gedung bertingkat tapi di sayap belakang. Jumlah ruang kelasnya ada 2, masing-masing berukuran 10x12 m2 yang disesaki dengan 120 mahasiswa yang semuanya bermimpi jadi programmer komputer yang handal. Ruang kelas dan ruang administrasinya sih ok di lantai 3, tapi kamar mandinya di lantai 2 sangat bau dan kita sebaiknya tidak usah kebelet supaya sepatu kita tidak tertempeli dengan bau-bauan yang baunya berbanding terbalik dengan parfum itu.
O ya, satu lagi. Jika aku sedang ngajar Statistik, ada satu staf administrasi Binus yang namanya Supardi, yang selalu mendengarkan aku memberikan kuliah. Aku datang ke Binus sekitar jam 17.15 kadang naik bis jemputan BPPT yang jurusan Grogol/Kebun Jeruk. Atau kadang-kadang menaiki sepeda motor Honda Bebek 70 cc-ku yang berwarna merah. Waktu itu Mal Taman Anggrek masih belum ada, yang ada Kebun Anggrek. Slipi masih berupa bunderan, dan Pancoran juga masih berupa bunderan (round-about). Dan sejak menikah di bulan Oktober 1982 aku dan isteri tinggal di rumah kontrakan di Jl. Almunawar, persis di belakang Kompleks Triloka Mabes TNI-AU Pancoran.

(Bersambung)

 

 

SUMBER :

http://pengembarasenja.blogspot.ca/